INFO MARKAS

Berita

Tulisan

Kegiatan

Welcome Ramadhan 1440 H


Keluarga Besar KSR PMI Universitas Hasanuddin Mengucapkan Selamat Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1440 H/ 2019 M

Potret Kemanusiaan Kartini Masa Kini


RA Kartini merupakan tokoh perempuan Indonesia yang dikenal karena perannya dalam kesetaraan antara pria dan wanita di tanah air. Raden Ajeng Kartini juga disebut sebagai tokoh emansipasi wanita. Berkat perjuangannya, kini wanita dan pria memiliki kesetaraan yang sama di masyarakat. Kartini merupakan sosok wanita yang banyak menginspirasi bukan hanya dari golongan wanita saja tetapi juga mereka yang berasal dari kalangan pria. Tidak setiap orang punya kemampuan istimewa untuk menginspirasi atau memotivasi orang lain, apalagi hingga melintasi batas waktu, hingga seratus tahun lebih. Hidup Kartini adalah inspirasi bahwa setiap perempuan (dan juga lelaki) indonesia bisa meraih cita cita setinggi apapun. Kalaupun Kartini terus terus dikenang hingga saat ini, bukan saja karena disebabkan warisan surat suratnya, tapi juga karena amal baiknya yg begitu banyak sepanjang hidupnya, hingga spirit Kartini  bisa tetap "hidup" melintasi zaman,  bahkan hingga lebih dari satu abad setelah kepergiannya.

    "Tahukah engkau semboyanku? 'Aku mau!' Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata 'Aku tiada dapat!' melenyapkan rasa berani. Kalimat 'Aku mau!' membuat kita mudah mendaki puncak gunung."

Kalimat diatas merupakan salah satu semboyan seorang Kartini, lantas bagaimana kita yang hidup saat ini memperjuangkan apa yang telah diperjuangkan Kartini dimasa lalu? Ada banyak hal yang tentunya bisa kita lakukan, belajar dari semboyan “Aku mau” harusnya dapat menjadi pemicu untuk kita semua agar dapat bermanfaat untuk sesama salah satunya dengan menanamkan kata “aku mau berjuang untuk kemanusiaan” seperti yang dilakukan oleh KSR PMI UNHAS hingga saat ini. Kemanusiaan identik dengan menjadi seorang relawan dimana tiap manusia akan mempunyai tempat yang tinggi bila mampu melaksankan tugas kemanusiaan. Berbicara tentang relawan dibenak kita mungkin muncul kata-kata seperti seseorang yang memiliki pekerjaan namun tidak dibayar. Yah namanya juga relawan melakukan sesuatu dengan rela kalaupun ada tambahan materi itu merupakan bonus dari Tuhan yang tidak bisa kita tolak. Hingga saat ini KSR PMI UNHAS telah di nahkodai oleh empat tokoh perempuan yang menandakan bahwa tidak adanya diskriminasi gender dalam kepemimpinan khususnya di KSR PMI UNHAS.

Terdapat banyak pandangan tentang bagaimana potret kemanusiaan kartini masa kini, dianataranya:

"Perempuan masa kini jangan hanya menuntut kesetaraan tapi harus mampu menyetarakan, jangan menjadikan kata gender sebagai tameng dan bersembunyi dibaliknya. Kartini masa kini harus berani memposisikan dirinya sebagai seorang relawan. Bukan sekedar menikmati hasil kesetaraan, tetapi lebih kepada melanjutkan tingkat kesetaraan itu sendiri", ujar Nurhaeni (Ketua KSR PMI UNHAS Periode 2018)

“Tanpa disadari pada saat menjadi relawan sama dengan melayani orang lain. Ketika mampu membuat seseorang lain jadi tersenyum dan bahagia, ada rasa kepuasan yang muncul pada diri kita sehingga inilah yang membuat saya bangga berKSR”, ujar Evy Rahmatya (Koordinator Hal 2019).

“Dengan berKSR saya mampu menemukan sebagian kecil arti kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Sebagai seorang yang mudah iba, semua hal yang di rasakan orang lain baik penderitaan maupun kesenangan mereka secara langsung mendobrak jiwa kemanusiaan saya untuk berjuang dengan mengusahakan apa yang saya punya walau hanya berarti sedikit bagi mereka", Ujar Ida Laila (Diksar XXV KSR PMI UNHAS)

"Bergerak dibidang kemanusiaan dan menjadi seorang relawan itu adalah kerelaan, seseorang tidak dipaksa untuk ini dan itu. Dengan BerKSR kamu bisa mengenal diri kimu sendiri, seperti apa sikapmu jika dihadapkan pada masalah-masalah yang ada di depan matamu. Selain itu, dengan terjun sendiri kamu juga jadi lebih tahu seperti apa lingkunganmu. Kamu belajar menjadi lebih bertanggung jawab dengan tugas-tugasmu untuk saling peduli dengan lingkungan sekitar", Ujar Adetya Chaerunnisah (Koordinator PSDA 2019).

Sepanjang hidupnya yang singkat, Kartini telah melakukan yang terbaik, untuk dirinya sendiri, juga untuk kemanusiaan. Sekarang saatnya kita menikmati apa yang kartini telah perjuangkan dengan cara kita masing-masing dengan menjadi lebih bermanfaat untuk orang lain karena tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan, selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah yang kita cintai.

Pada akhirnya, mari kita menegaskan kembali bahwa perjuangan kartini adalah perjuangan kemanusiaan dan menjadi seorang relawan atau volunteer itu hal yang Istimewa. Menjadi relawan adalah pilihan jalan untuk memberi manfaat bagi orang lain. Memang, banyak cara lain untuk bermanfaat. Relawan bukanlah jalan satu-satunya. Tapi, menjadi relawan adalah pilihan. Pilihan bagi orang-orang terpilih. Pilihan bagi orang yang mau dan memberanikan diri untuk mengambil risiko lebih dalam mendukung program peningkatan kualitas hidup sesama dengan cara yang berbeda.

Noi Siamo Tutti Fratelli.....!!!!!

Kota Makassar Tak Ramah untuk Perempuan......??

Gambar diatas menunjukan ancaman kriminalitas terhadap perempuan di Provinsi Sulawesi Selatan khususnya di Kota Makassar yang dilansir berbagai sumber media elektronik IDNTIMES


 A.    Analisis Kritis (Critical analys)
Pada masa sekarang, dimana mulai terjadi pergeseran peranan dan bias gender, ruang-ruang “maskulin” mulai diisi dan digunakan oleh perempuan. Perempuan bekerja dan berpergian hampir sama banyaknya dengan yang dilakukan laki-laki, dan juga menggunakan ruang yang sama banyaknya dengan laki-laki, namun ruang-ruang yang telah terbentuk seringkali memberikan rasa tidak nyaman dan tidak aman bagi perempuan. Pelecehan seksual pada perempuan ketika menggunaan transportasi publik ataupun ketika berjalan pada ruang-ruang dengan pecahayaan kurang adalah contoh-contoh ketidak nyamanan dan ketidak amanan yang menimpa perempuan akibat ruang-ruang “maskulin”. Tidak hanya ketidakadilan terhadap keamanan bahkan hal tersebut juga terjadi dalam memperoleh peluang ekonomi dan akses terhadap fasilitas perkotaan. Dalam hal peluang ekonomi, menunjukan adanya ancaman persaingan ekonomi yang tinggi bagi perempuan dimana beberapa pekerjaan pada umumnya memaksa perempuan untuk pulang larut malam yang merupakan waktu yang sangat potensial terjadinya tindak kriminalitas. Kemudian kekersan seksual, kekerasan seksual yang dimaksud adalah yang bersifat fisik maupun non fisik. Terkait, kekerasan seksual terhadap perempuan di ruang publik. Komnas Perempuan mencatat bahwa dalam tiga belas tahun terakhir setiap harinya di Indonesia terjadi 20 kali kekerasan seksual atau secara keseluruhan ada sebanyak 93.960 kasus, dan 23,7 persennya terjadi di ruang publik yang dominan terjadi di daerah perkotaan. Ruang publik di sini maksudnya adalah di angkutan umum, taman kota, jalan raya dan tempat-tempat umum lainnya. Ini kemudian menjadi salah satu poin menunjukan bahwa Makassar juga tidak luput dari kecemasas terhadap rasa tidak adannya keamamanan untuk perempuan. Bia hal tersebut benar dirasakan oleh sebagian besar perempuan maka bisa dikatakan Makassar adalah kota yang jauh dari ideal. Makassar yang dirudung demikian banyak tantangan tentunya tidak menjadikan keamanan perempuan sebagai prioritas utama.

Pertanyaan yang mungkin timbul dari kasus yang terjadi di Makassar adalah, “Apakah perencanaan kota Makassar yang seperti sekarang ini benar untuk semua golongan masyarakatnya?” Artinya, apakah tata ruang Makassar, mulai dari sistem transportasi, kesehatan, ketenagakerjaan keamanan dan lain sebagainya, bisa dinikmati secara setara oleh semua kalangan masyarakat Makassar? Lebih fokus lagi, misalnya, apakah perencanaan kota Makassar sudah ramah untuk perempuan? Melihat, kondisi kekinian Makassar, terlihat jelas bahwa Makassar masih belum bisa dikategorikan ramah perempuan. Hal ini karena pertama, memang belum ada kebijakan spesifik yang diusung Pemerintah kota, provinsi maupun pusat yang spesifik dibuat dengan kesadaran pentingnya membuat Makassar aman dan nyaman bagi perempuan.

Prinsip dasar dari Kota Ramah Perempuan ini adalah bagaimana sebuah kota dibangun agar inklusif untuk semua warganya, perempuan dan laki-laki, kaya-miskin, masyrakat sipil, sektor swasta tentunya merasa aman, sehingga semua warga dapat bekerja, bersosialisasi dan mengaktualisasikan dirinya. Dengan kata lain, pembangunan perkotaan seharusnya diarahkan ke pembangunan yang dapat mengantisipasi lonjakan penduduk, kemiskinan, masalah keamanan khususnya dengan tidak melupakan keberadaan perempuan, terutama mengakhiri kasus-kasus kekerasan seksual terhadap perempuan di ruang publik.

Aksi masyarakat Makassar pada international women’s day, sebagai bentuk keluh kesah atas ketidak nyamanan di kota

Untuk mewujudkan ruang Makassar yang ramah perempuan dan menghilangkan stigma bahwa Makassar adalah kota yang tidak aman untuk perempuan maka seorang perencana perlu melihat dari sudut pandang feminisme dimana perempuan harus dipandang sebagai sebuah variable dalam perencanaan kota. Kenyataannya, kebijakan tata ruang di Makassar saat ini meleburkan perempuan sebagai other categories yang tersembunyi. Tata ruang cenderung menyeragamkan kebutuhan ruang masyarakatnya yang notabenenya dipandang dari sudut “maskulin”. dan kebutuhan perempuan tidak dipertimbangkan. Namun, semua keputusan yang diambil untuk masalah perumahan, keamanan, transportasi, pendidikan dan kesehatan secara langsung mempengaruhi wanita, memfasilitasi atau mempersulit hidup mereka. Artinya, perencanaan masih dalam benteng pertahanan pria, masih dalam dominasi pria dan belum dipengaruhi oleh kesadaran akan pentingnya gender.

Misalnya, layanan seperti membangun tempat dimana perempuan dapat berkumpul atau taman kanak-kanak dan pusat penitipan anak untuk setiap lingkungan dll. Umumnya tidak diprioritaskan dalam perencanaan dan organisasi perkotaan. Jalan-jalan yang kurang terang khususnya pada lorong-lorong di Makassar, kurangnya layanan angkutan kota dan angkutan massal seperti transmamminasata yang kurang mengakomodir tujuan pergerakan dan kondisi keamanan yang buruk dari yang sudah ada, mencegah perempuan dari melaksanakan kebebasan bepergian mereka yang merupakan salah satu hak fundamental mereka. Akses jalan yang tidak rata dan trotoar yang tinggi membuat sulit bagi perempuan untuk menggunakan jalan-jalan kota dengan kereta bayi. 

Kondisi trotoar di Jalan AP Pettarani (kiri) dan Kecamatan Rappocini (kanan) yang kurang baik dan tidak tersedia jalur masuk pendestrian, menyulitkan perempuan yang membawa kereta bayi untuk memanfaatkan pendestrian
Perempuan merupakan salah satu kelompok yang paling diabaikan ketika datang ke fasilitas perkotaan. Selain itu, tempat penampungan perempuan dan dukungan langsung hot line untuk dapat mencapai pihak berwenang dalam kasus paparan terhadap kekerasan juga merupakan masalah penting, yang tidak boleh diabaikan dalam rencana pemerintah kota.

            Dari sudut pandang feminism seharusnya perencanaan yang menjadikan perempuan seabagi objek melibatkan kaum perempuan dalam penyusunan rencana tersebut. Sebagai contoh dalam penyusunan rencana tata ruang Kota Makassar khususnya untuk mewujudkan konsep kota ramah perempuan, pemerintah melibatkan tim ahli dari kaum perempuan, survivor kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan, keluarga korban, masyarakat dari segala lapisan masyarakat. Hal ini agar program-program yang dibuat untuk mewujudkan Kota Ramah Perempuan ini benar-benar implementatif karena dibuat berdasarkan pengetahuan dan pengalaman perempuan sendiri selama ini beraktivitas di ruang-ruang kota. Tentu saja pengalaman-pengalam tersebut mungkin saja tidak tersentuh dan terpikirkan oleh rana “maskulin”

Kondisi kunci untuk menciptakan Makassar yang ramah perempuan adalah dengan menganalisis kebutuhan infrastruktur, sosial dan spasial perempuan dan anak perempuan secara cepat dan tepat dengan tujuan a) merancang layanan perkotaan khusus perempuan b) untuk menyediakan semua layanan dengan menilai mereka dalam hal kesetaraan gender. Kedua pendekatan ini seharusnya tidak dianggap sebagai dua alternatif tetapi dua pendekatan paraler yang saling melengkapi.
Singkatnya, langkah pertama untuk menciptakan Makassar yang ramah wanita adalah dengan mengenal golongan perempuan yang tinggal di Makassar kemudian menganalisis kebutuhan, masalah dan peluang mereka dengan benar. setelah langkah ini, rencana strategis dan rencana kerja yang peka gender harus disiapkan dengan pertimbangan penganggaran yang berbasis  gender ketika menyiapkan anggaran provinsi maupun kota. 

Sebagaimana dijelaskan di atas, perbedaan persepsi, perilaku, dan kebutuhan perempuan dalam ruang juga perlu didentifikasi lebih lanjut untuk kemudian diakomodasikan dalam proses perumusan rencana penataan ruang, karena adanya perbedaan kebutuhan laki-laki dan perempuan akan berimplikasi pada perbedaan kebutuhan ruang. Maka untuk mewujudkan hal tersebut perempuan perlu dilibatkan dalam proses perumusan rencana penataan ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Hal ini menjadi penting karena yang sangat peka dengan isu ketidakadilan gender dalam konteks penataan ruang adalah kaum perempuan.

Catatan penting lainnya adalah, bahwa persoalan mengkondisikan pembangunan sebuah kota agar ramah perempuan bukan berarti hendak membuat keistimewaan terhadap perempuan. Kebijakan dan program harus sering memperlakukan tiap orang maupun kelompok secara berbeda namun tujuan dan pengaruh kebijakan harus setara gender. Hal ini harus dilihat sebagai sebuah cara untuk mempercepat kesetaraan gender perempuan dan laki-laki dalam tata ruang. Seperti yang dikatakan di atas bahwa kekerasan yang terjadi pada perempuan adalah sebagai salah bentuk ketidaksetaraan gender. Ketidaksetaraan gender tercipta karena stigma, pelabelan dan subordinasi yang dialami perempuan selama ini di ranah publik dan juga pivat.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Makassar sebagai bagian dari kawasan metropolotan yang seringnya jadi kiblat pembangunan khususnya di Kawasan Indonesia Timur, tidak seharusnya menjadi kota yang berbahaya untuk dihuni, termasuk bagi perempuan. Bukan hanya Makassar, pembenahan kultur kekerasan dan ancaman kriminal juga harusnya diperhatikan di seluruh kawasan Indonesia. Peran pemerintah dan kesadaran masyarakat benar-benar sangat  diperlukan. oleh karena itu pentingnya kesetaraan gender dalam sebuah perencanaan dan mengakui adanya perbedaan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari laki-laki dan kaum perempuan. Karena bagi perempuan tidak terakomoditasinya kebutuhan mereka dari prespektif ruang sebagai tempat aktifitas mereka seperti penerangan untuk jalan dan di permukiman padat dan ruang-ruang public bisa menajdi masalah hidup dan mati.  

KSR-UH.XXI.025

Aktualisai Rencana Kerja KSR PMI UNHAS Periode 2019

Pada tanggal 23 januari 2019 bertempat di Ruang Workshop KSR PMI UNHAS, Pengurus KSR PMI UNHAS menyelenggarakan rapat kerja yang berlangsung selama dua hari yang berakhir pada tanggal 24 Januari 2019 dengan mengangkat tema "aktualisasi rencana kerja dalam mengoptimalkan integritas KSR PMI UNHAS". Rapat kerja tersebut dihadiri oleh anggota biasa dan luas biasa KSR PMI UNHAS untuk membahas setiap program kerja yang telah disusun oleh pengurus periode 2019. 

Rapat kerja Pengurus KSR PMI UNHAS Periode 2019
Rapat kerja ini dilaksanakan setelah dilakukannya pergantian pengurus baru pada Musyawarah Anggota KSR PMI UNHAS pada desember 2018 lalu.  Tujuan dilaksanakannya Rapat kerja oleh pengurus KSR PMI UNHAS adalah untuk memaparkan rencana program kerja yang telah disusun oleh setiap bagian dalam struktur kepengurusan. Setiap badan dan bidang KSR PMI UNHAS memiliki program kerjanya masing-masing dan disinilah wadah untuk memaparkannya kepada anggota keluarga yang hadir tentang rencana agenda kegiatan selama tahun 2019 ini.

Ketetapan dan keputusan dalam rapat kerja ini diambil berdasarkan hasil kesepakatan dalam  sidang pleno. Proses rapat keja berlangsung dengan baik dan lancar, banyak masukan dan pertimbangan dari seluruh peserta sehingga pada akhirnya dapat tersusun beberapa program yang menjadi agenda pengurus yang baru saja melakukan pergantian nahkoda. 




Tidak ada perbedaan yang yang terlalu mencolok antara agenda kegiatan tahun 2019 dengan program pengurus sebelumnya. Beberapa program andalan KSR PMI UNHAS diantara Akasi Relawan masih menjadi agenda yang tak luput dari perhatian seluruh peserta rapat. namun berbeda dengan pelaksanaan tahun sebelumnya, di tahun ini penyelenggaraan Aksi relawan rencana akan dilaksanakan di luar kampung halaman KSR PMI UNHAS yaitu dilaksanakan di Provinsi Sulawesi Tenggara. selain itu rapat kerja pengurus periode 2019 juga menghasilkan sebuah program inovatif yaitu Bulan Berbagi yang kemudian lebih dikenal dengan "Buber". Pelaksanaan buber rencana akan dilaksanakan setiap bulan selama kepengurusan dengan memberikan sembako kepada masayarakat luas di Kota Makassar khussnya bagi masyarakat berpenghasil rendah yang mana kegiatan ini bersifat donasi yaitu dengan menghimpun dana dari para donatur untuk kemudian disalurkan oleh pengurus KSR PMI UNHAS. 


 oleh: KSR-UNHAS.XXIV.004
 
Back To Top