INFO MARKAS

Berita

Tulisan

Kegiatan

Puisi: Ada Yang Hilang di Antara Sekat

Ada Yang Hilang di Antara Sekat
oleh Ainun Ulfa Fiesta Amirullah (KSR-UH.XXIII.015). 3 Maret 2018

Ada yang hilang diantara sekat
Semua mendemik demi berpermadani
Mangabai serabi
Namun mendamba roti lapis
Mengabai pisau
Namun mendamba keris

Tatkala kemanusiaan menjadi mipis
Nihilisme merajalela
Orang dengan tampang beku mengangkat bahu
Lalu orang dengan tampang beku berteriak
"Miskin!"
Tapi orang dengan tampang beku hilang hati nurani

Ada yang hilang di antara sekat
Orang berbaju jabir jadi makin merunduk
Berseka agar berhati nurani
Tapi terlanjur dicaci
Mulutnya dibungkam karena kekuasaan
Matinya dikubur dengan kehinaan

Ada yang hilang diantara sekat
Hatinya berapi api
Lantaran ingin bersua
Namun dibunuh mereka yang congkak
Dihalau hedonisme
Dipenggal perca kekuasaan
Maka mereka merengek
Menangis sejadi jadinya
Lantaran ada yang hilang diantara sekat

E-Buletin KSR PMI UNHAS Edisi II (Maret 2018)


Latihan Bersama (LATSAMA) Relawan PMI Se-Kota Makassar

9 April 2018 - Latihan Bersama (LATSAMA) Relawan PMI Se-Kota Makassar telah ditutup siang kemarin (8/4/18). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai ajang berkumpul dan membangun kualitas SDA tenaga sukarelawan PMI Kota Makassar melalui forum dan pelatihan. Peserta kegiatan merupakan tenaga sukarela PMI Se-Kota Makassar yaitu TSR, KSR dan PMR dari tiap unit Se-Kota Makassar. KSR PMI UNHAS mengutus 7 orang anggota selaku peserta kegiatan. 


Ada banyak item kegiatan sebagai rangkaian kegiatan LATSAMA Relwan ini, diantaranya pelatihan manajemen posko, pelatihan water rescue, pelatihan DU, pelatihan untuk PMR, Forum Komunikasi KSR PT dan Forum Relawan. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari yaitu tanggal 5-8 April 2018. Dilaksanakan di kawasan Benteng Somba Opu berpusat di Baruga Somba Opu.

Bulan Donor Darah (BULANDOR) PDDK KSR PMI UNHAS: 10 April 2018


Ayo Donor Darah Sukarela!

Bulan Donor Darah (BULANDOR) bekerjasama dengan FMA FAPERTA UNHAS dan UTD Dinkes Prov. Sulawesi Selatan dilaksanakan
Tempat: Pelataran BEM KEMA FAPERTA UNHAS
Pukul: 08 00-selesai
Tanggal: 10 April 2018

#PDDK
#KSRPMIUNHAS
#NSTF

FAMILY CAMP 2018

5 Maret 2018 – Bertempat di Taman Wisata Malino, Kab. Gowa, Family Camp 2018 telah dilaksanakan, dengan berbagai item kegiatan. Diantaranya: Outbound, Malam Apresiasi Diksar 24, Tudang Sipulung, dan Field Trip. Family Camp 2018 dihadiri sekitar 80-an keluarga KSR PMI UNHAS. 
Outbound dilaksanakan pada tanggal 3 Maret 2018. Dibuka dengan senam bersama pada pukul 9.00 WITA dan dilanjutkan dengan outbound yang dipimpin oleh kanda Fadli Muhammad (KSR-UH.XVII.013) selaku instruktur dan seluruh keluarga KSR PMI UNHAS lainnya yang sempat hadir, selaku peserta. Outboud berlangsung hingga pukul 11.30 WITA, lalu dilanjutkan pukul 15.00 WITA dan berakhir pada pukul 18.00 WITA.
Malam Apresiasi Diksar 24 juga dilaksanakan pada tanggal 3 Maret 2018. Dibuka dengan pembukaan oleh Asny Syahriani (KSR-UH.XXIV) selaku Master of Ceremony (MC) dilanjutkan dengan susunan acara: menyanyikan Mars KSR PMI UNHAS, laporan ketua panitia, penyerahan sertifikat dan nomor anggota Diksar 24 dan sambutan-sambutan, lalu ditutup dengan pembacaan doa. Setelah pembukaan, malam apresiasi dilanjutkan dengan acara non-formal berupa tukar kado, penampilan stand up comedy dan vocal group dari Diksar 24, dan penampilan dari keluarga KSR PMI UNHAS.
Setelah seluruh rangkaian acara dalam agenda Malam Apresiasi Diksar 24 selesai, dilanjutkan dengan agenda Tudang Sipulung. Dalam agenda ini, seluruh keluarga didudukkan melingkar untuk membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan internal KSR PMI UNHAS. Tudang Sipulung ditutup pada pukul 5.00 WITA tanggal 4 Maret 2018.
Sayangnya, salah satu agenda yaitu Field Trip (wisata ke Air Terjun Takappala) tidak dapat dilaksanakan karena terkendala cuaca. Rombongan kembali ke Makassar pada pukul 15.00 WITA.

KURSI DI MUSIM KEMARAU



Dan hari ini tak jauh berbeda dari hari-hari yang lalu, sangat melelahkan hati. Ada rindu yang tak terjawab terbentur hati yang menurutku tak bernyawa. aku dan semua emosional ini berbaur lara dalam hati hingga akhirnya butiran itu meleleh pelan membasahi pipi, terjatuh, pecah berhamburan membasahi kursi di musim kemarau. Ada apa dengan dirimu, hatimu tiba-tiba membatu. Ini bulan kelima kepergiannmu. Tanpa kabar berita,,, kepergianmu menyeret tubuh, hati dan imajinasiku ke lembah yang tak berujung, penuh liku dan noda. Beribu nasehat ku acuhkan, teman dan sahabatkupun menghilang satu persatu, bukan karena tak peduli, namun karena aku yang terlalu sibuk menikmati manisnya cinta yang kau berikan terlena oleh pujian yang sebenarnya hanyalah ilusi yang dihadirkan oleh hatiku sendiri, yang buta, dibutakan oleh harta dan pesonamu.
Sekilas wajah ibu dan ayahku terlintas dalam pikiran, ada moment ketika aku sangat merindukan mereka, ketika masa libur kuliah, aku menghabiskan waktuku di kampung halaman menemani ibu ke ladang bermain dengan dedaunan yang melambai ditiup angin. Ayahku sudah meninggal sewaktu aku tamat SMA, sewaktu akan berangkat kuliah di Kota Makassar tiba-tiba penyakit ayah kambuh. Masih terngiang jelas bisikan ayah di telingaku sebelum malaikat memisahkan aku dan ayahku. Rara… jaga sholatmu nak, jaga ibumu, kuliahki baik-baik… jaga cita-citamu, semoga cita-citamu bisa membawa nama baik di keluarga kita.
Oh tuhaaannnn kenapa anak seperti aku harus lahir dari mereka… kenapa harus kau uji ibuku dengan anak durhaka seperti aku. Air mataku semakin deras menetes. Ada perasaan jijik yang menggebu akan diri ini. Kutahan isak tangis dengan kedua tanganku. Kemana temanku, kemana sahabatku, aku rindu mereka, rindu tertawa bersama mereka, rindu cerita-cerita mereka, aku rindu mereka. Ibu apa kabar dirimu, rindu aku hangat tanganmu membelai rambutku, rindu aku dipelukanmu mendengar senandung tidurmu.
Sumber: hanyabloghanna.blogspot.co.id
Sudah lima bulan aku hidup dalam kesedihan mendalam, sudah lima bulan pula aku tak mendengar kabar darimu, darimu yang dulu begitu hangat di hatiku, mengisi setiap ruang kosong hariku, darimu yang mengajarkanku arti sayang arti rindu dan benci, darimu aku merasakan candu yang begitu dalam candu asmara yang tak seharusnya menyapaku di masa pencarian jati diriku. Hingga sebuah malapetaka terjadi… candu yang begitu kuat membuatku lupa segalanya, atas nama cinta, sayang dan apapun itu aku serahkan harga diriku untuk dijamah oleh lelaki yang aku sebut malaikat pelindungku. Sesungguhnya penyesalan itu adalah hal yang sangat menyakitkan, dan sekarang baru aku sadari bahwa yang terjamah itu bukan hanya harga diriku tapi harga diri agamaku, harga diri keluargaku dan harga diri semua perempuan yang selama ini berusaha sekuat tenaga menjaga kehormatannya dari serigala berwujud kelinci. Bermuka imut berhati bangsat. Yaahhh… akupun juga sudah menjadi bangsat dan aib di dalam keluargaku.
Sudah lima bulan ini aku hidup dalam kerapuhan, kuliahku hancur, sudah berkali-kali ibu meminta untuk pulang. Perasaanya selalu gundah akan diriku ibu selalu bermimpi buruk perihal diriku, namun aku selalu berkilah bahwa aku baik-baik saja dan mimpi itu hanyalah pengaruh capek akibat berkerja di ladang. Ada-ada saja alasanku untuk menolak permintaan pulang ibuku, banyak tugaslah, praktek lapanglah dan semua alasan yang sekiranya dapat aku gunakan untuk menunda dan menunda. Hari-hariku di kampus begitu sepi sahabatku sudah banyak yang ke daerah untuk penelitian, dan yang tertinggal hanya orang-orang yang aku kenal sebatas senyum. Hari-hariku yang dulu habis terbuang bersama orang yang sekarang menghancurkan hidupku. Sekarang, hanya tempat ini, bersama kursi dan laptop tempatku berbicara memuntahkan semua kejijikan hidup yang pernah aku alami yang dulu aku sebut itu cinta. Untuk beberapa saat aku bisa tegar dari semua dosa yang aku perbuat, namun kesedihan itu tak pernah musnah abadi. Selalu datang menghampiri membuatku jatuh kembali dalam butiran air mata.
Rara…
Suara itu…, seolah-olah dunia berhenti dipenglihatanku, suara itu… suara itu menyeretku kembali kemasa lalu, masa sewaktu ospek, masa sewaktu kuliah bareng, jahil bareng, menonton film korea bareng masa dimana susah dan tawa selalu ada di sekelilingku. Ada perasaan rindu dan sedih yang mendalam dengan pemilik suara ini… dia Novi sahabatku, sahabat dekatku
Tak kuasa aku membalikkan badan menyambut kedatangannya, aku cuma tertunduk, menahan isak tangis yang meronta keluar dari mulutku, perlahan dekapan tanganya menyelimutiku. Tak kuasa aku menahan rindu, Kupeluk erat sahabatku ini, aku menangis sejadi-jadinya. Lama aku dalam pelukannya. Kulampiaskan dahagaku akan sosok sahabat yang aku rindui untuk berbagi. Aku rasakan butiran air menetes di kepalaku, badanya bergertar kecil menahan tangis…
Tiga hari yang lalu ibumu nelpon,Ra… dia menanyakan dirimu…, ibumu kok tumben nelpon ke aku, pikirku kamu mungkin lagi ada masaalah. Tapi aku bilang ke ibumu kamu baik-baik saja. Aku tidak ingin ibumu berpikir yang tidak-tidak, sebelum aku sendiri memastikan keadaanmu. Namun baru hari ini aku bisa datang.
Cerita ke aku Ra… apa yang terjadi denganmu?
Aku…
Aku hamil Nov…

Dan semua kisah pahit itu keluar berhamburan, seolah air yang menemukan wadahnya mengalir dengan riak-riak kecil bernada lirih…

Novi terdiam, tak dilepaskan pelukannya, Novi sadar akan kesedihan temannya dan betapa ia membutuhkan sosok untuk mencurahkan isi hatinya…
Kita harus pulang Ra… pulang ke ibu di kampung
Aku tak sanggup menatap wajah ibu ,Nov…
Kita pulang sekarang atau selamanya kamu akan hidup dalam linangan dosa…
Penyesalanmu tak akan mengembalikan kebahagiaanmu… hanya maaf dari ibumu... itu yang terpenting saat ini.
Besok aku akan berangkat ke kampung menemui ibu, menjelaskan kondisimu, setelah itu baru kau menyusul
Sumber: rebanas.com

Pagi itu... rumah panggung di kaki bukit, rumah yang selalu aku rindui, rumah yang selalu mengembalikan semangatku. Sosok tua sedang menyapu di halaman… dia berdiri terpaku menatapku. Kerut wajahnya nampak jelas, keriput dimakan usia. Namun bukan itu yang membuatku teriak lirih, ada butiran air mata yang menetes dari wajah lesunya, senyum bercampur sedih… membuatku berlari menghamburkan diri ke pelukannya… mencium kakinya… maafkan aku ibu…

Oleh :
M.Y. Weandara
 
Back To Top