INFO MARKAS

Berita

Tulisan

Kegiatan

JADIRELAWAN.ID : Website Terintegrasi Kampus Merdeka sebagai Platform Partisipasi Mahasiswa Tangani Pandemi Covid-19 di Sulawesi Selatan

 JADIRELAWAN.ID : Website Terintegrasi Kampus Merdeka sebagai Platform Partisipasi Mahasiswa Tangani Pandemi Covid-19 di Sulawesi Selatan


Pendahuluan

Pernahkah masyarakat dunia membayangkan suatu keadaan dimana manusia setiap harinya hidup akrab dengan Pandemi Covid-19? Orientasi kehidupan masyarakat kini berubah dari yang semula berupaya untuk meningkatkan kapabilitas diri dengan pendidikan yang layak, menghidupi rumah tangga untuk memastikan kebutuhan hidup terpenuhi, serta bersosialisasi satu sama lain untuk membangun jaringan yang luas kini terfokus pada bertahan hidup bermodalkan masker dan protokol kesehatan, menantang maut untuk keluar rumah yang harus digadaikan demi mencari nafkah. Per 22 Juli 2021, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merilis jumlah kematian akibat Covid-19 berada pada angka 79.032 jiwa (Moerti, 2021). Lebih dari 79.000 nyawa telah hilang sejak kasus pertama Covid-19 masuk ke Indonesia pada Maret 2020 lalu, menandakan Indonesia jauh dari kata baik-baik saja.

Pandemi Covid-19 yang mengharuskan tatanan kebijakan yang optimal demi memberikan pelayanan kesehatan yang prima pada masyarakat mengalami hambatan, baik dari segi sumber daya fasilitas yang ada, medikasi, tenaga medis, hingga tenaga administratif yang membuat pelayanan dalam masa pandemi ini carut marut. Berdasarkan data rasio tempat tidur terhadap 1.000 penduduk di setiap negara dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) per 5 April 2020, merilis data ketersediaan tempat tidur di rumah sakit untuk negara di Dunia, dan Indonesia menempati peringkat 41 dari 42 negara. Rasio ketersediaan ranjang di rumah sakit per 1.000 penduduk Indonesia adalah sebesar 1:1000. (Gerintya, 2021) Terlebih lagi, rasio jumlah tenaga kesehatan dan jumlah pasien positif Covid-19 yang harus mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan sangat tidak berimbang.

Peran dokter dan perawat sebagai tenaga kesehatan harusnya berfokus pada pemantauan kondisi pasien dan berbagai tindakan medis kepada pasien. Untuk menunjang kemudahan peranan tersebut, terdapat peranan bagian administrasi, usaha kesehatan publik, tracing pada masyarakat dan promosi kesehatan dalam satuan pelayanan kesehatan pasien Covid-19. Tidak hanya dari segi kesehatan, Pandemi Covid-19 yang berdampak signifikan pada sektor pendidikan, pertanian dan perekonomian juga memerlukan perhatian khusus. Hadirnya tugas dan fungsi yang luas dalam penanganan Covid-19 ini membuka peluang kontribusi dan partisipasi masyarakat umum untuk membantu pemerintah dalam mengatasi Pandemi Covid-19. Oleh karena itu, diperlukan peran penting lapisan masyarakat khususnya mahasiswa dalam penanganan Covid-19 di Indonesia.

Kontribusi mahasiswa dalam mengatasi pandemi Covid-19 secara nyata dapat diwujudkan melalui kegiatan relawan yang dipusatkan pada daerah-daerah yang ada di seluruh Indonesia, salah satunya Sulawesi Selatan. Keberadaan para relawan menjadi sangat berarti dalam penanganan pandemi Covid-19. Per 03 Juli 2020 Tim Relawan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (Gugus Tugas Nasional) mencatat sebanyak 30.924 relawan medis maupun non medis terdaftar untuk membantu percepatan penanganan Covid-19 di Indonesia. (Faliha, 2021) Sebagai salah satu wilayah penyumbang kasus positif aktif yang besar, penanganan Covid-19 di Sulawesi Selatan memerlukan banyak evaluasi, salah satunya segi partisipasi mahasiswa dalam penanganan Covid-19. Sebagai wilayah dengan rujukan pendidikan tinggi untuk Indonesia Timur, ribuan mahasiswa dari berbagai wilayah berkumpul di Kota Makassar setiap tahunnya untuk menuntut ilmu di banyak perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Dengan adanya Pandemi Covid-19, mahasiswa terpaksa harus menuntut ilmu secara daring dari wilayah rumah masing-masing, dari kabupaten dan kota yang tersebar di seluruh wilayah di Sulawesi Selatan. Agar produktif, jumlah mahasiswa yang ada harus dimaksimalkan dalam penanganan Covid-19 yang salah satunya dapat diwujudkan melalui sebuah program relawan terstruktur yang terintegrasi dengan program kampus merdeka.

Pembahasan

1. Program Kampus Merdeka

Program Kampus Merdeka merupakan inovasi yang dihadirkan untuk menjamin kebebasan dan kemandirian belajar pada mahasiswa. Dalam rangka menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan sosial, budaya, dunia kerja dan kemajuan teknologi yang pesat, kompetensi mahasiswa harus disiapkan untuk lebih gayut dengan kebutuhan zaman. (DIKTI, 2021) Tidak hanya berorientasi pada dunia kerja, tetapi juga dengan masa depan yang berubah dengan cepat. Pada masa sekarang, kampus menjadi media yang paling tepat bagi mahasiswa untuk secara sadar menumbuhkan minat mereka dalam bidang sosial, salah satunya menjadi relawan pada Pandemi Covid-19. Kampus merdeka menjadi kesempatan yang tepat bagi mahasiswa mewujudkan partisipasi nyata mereka. Kegiatan belajar-mengajar tidak selamanya harus dilaksanakan hanya di dalam kelas maupun laboratorium. Mahasiswa dalam hal ini dapat turun langsung sebagai relawan, dan mampu memahami permasalahan langsung di lapangan, ikut aktif memberi solusi dan melayani masyarakat. (DIKTI, 2021) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga telah memastikan program seperti relawan ini dapat disetarakan dengan SKS, mengingat esensinya dimana mahasiswa relawan berpartisipasi langsung di masyarakat.

2. JADIRELAWAN.ID menjawab permasalahan kegiatan kerelawanan

Salah satu permasalahan kegiatan kerelawanan yang selama ini berjalan di masa Pandemi Covid-19 adalah tidak menunjukkan konsistensi dan kecenderungan nilai manfaat yang besar akibat partisipan yang kurang, perencanaan yang belum matang, serta monitoring dan evaluasi berkala yang optimal. Di tengah pandemi ini, berbeda dengan kegiatan relawan biasanya, para relawan yang terjun langsung ke lapangan memerlukan banyak persiapan, dan perlu berbagai screening terlebih dahulu. (Nugroho, 2021) Program relawan yang sporadis dan tidak terstruktur juga menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah, yang pada akhirnya membuat program relawan menjadi sia-sia. Program kerelawanan yang ada juga membatasi mahasiswa untuk berpartisipasi mengingat tanggung jawab mereka untuk belajar di kampus. Oleh karena itu, Website JADIRELAWAN.ID dengan kolaborasi program kampus merdeka merespon minat mahasiswa yang besar untuk berpartisipasi dalam kegiatan kerelawanan dan akan menjamin kegiatan relawan tersebut pada masa Pandemi Covid-19 oleh Mahasiswa khususnya di Sulawesi Selatan berjalan dengan baik. 

JADIRELAWAN.ID adalah sebuah Platform berbasis website yang dikembangkan dalam rangka menjamin dan menarik partisipasi mahasiswa untuk ikut serta dalam program relawan Covid-19. Mahasiswa yang menjadi target dalam kegiatan relawan diperkenalkan dengan program kampus merdeka yang berfokus pada relawan Covid-19, dan proses dari awal hingga akhir program relawan akan dilaksanakan dengan memanfaatkan website JADIRELAWAN.ID.

3. Bagaimana konsep yang diusung JADIRELAWAN.ID

User Interface prototype platform website JADIRELAWAN.ID dapat ditampilkan sebagai berikut :



Gambar 1. Prototype Website JADIRELAWAN.ID (Selengkapnya di lampiran)

Bertujuan untuk membantu pemerintah dan tenaga kesehatan dalam penanganan Covid-19, website ini berjalan dengan konsep sebagai berikut : 

1. Media sosialisasi program relawan 
Mahasiswa masa kini belum mengenal dengan detail program relawan dan urgensi dibutuhkannya relawan pada masa pandemi Covid-19. JADIRELAWAN.ID akan memuat informasi seputar statistik data Covid-19 Dunia, Indonesia dan Provinsi Sulawesi Selatan yang terintegrasi dengan website dan data World Health Organization, Kementerian Kesehatan, dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Dengan adanya JADIRELAWAN.ID, Mahasiswa mampu mendapatkan informasi detail terkait pentingnya peran relawan untuk menyukseskan penanganan Covid-19 saat ini, serta bagaimana bentuk partisipasi yang dapat mahasiswa lakukan

2. Media pendaftaran program relawan 
JADIRELAWAN.ID akan menjamin prosesi pendaftaran yang mencakup registrasi, basis data diri, yang terkoneksi dengan berbagai universitas dan sekolah tinggi di Sulawesi Selatan. Mahasiswa dapat melakukan pendaftaran secara mandiri dengan tentunya menyiapkan berkas pendaftaran terlebih dahulu, yang informasinya tersedia dalam website JADIRELAWAN.ID. Setelah melakukan registrasi, mahasiswa dapat mendaftar dengan memasukkan data diri mereka, mengisi bagian peran yang diinginkan dalam partisipasi dan wilayah penempatan, serta melampirkan berkas pendukung. Melalui website ini pula, mahasiswa dapat melihat hasil penilaian program relawan mereka. Melalui website ini, pihak universitas dan sekolah tinggi dapat melihat data pendaftar yang berasal dari universitas/sekolah tinggi masing-masing, yang dapat dipertimbangkan dalam konversi SKS (Satuan Kredit Semester) yang ditukarkan dalam program kampus merdeka tersebut. Kegiatan relawan Covid-19 melalui program kampus merdeka dapat dikonversikan menjadi nilai yang dihitung dalam SKS tersebut.

3. Media monitoring keperluan relawan di Seluruh Sulawesi Selatan Melalui website JADIRELAWAN.ID, keberadaan tenaga kesehatan yang tidak merata di wilayah Sulawesi Selatan yang membawa dampak tersendiri pada ketimpangan penanganan Covid-19 di Sulawesi Selatan. Untuk mencegah penumpukan relawan yang terkonsentrasi di satu titik saja seperti titik sentral yakni Kota Makassar, website JADIRELAWAN.ID menyediakan data kebutuhan relawan yang terbuka di Seluruh Provinsi. Dengan ini, bahkan daerah pelosok pun akan memiliki pendaftar relawan yang sesuai dengan kebutuhan mereka, mengingat mahasiswa yang saat ini melakukan perkuliahan secara daring berasal dari berbagai daerah. dapat mengisi formasi relawan secara bebas di daerah masing-masing. Tidak hanya itu, latar belakang pendidikan mahasiswa yang berbeda-beda akan disesuaikan tergantung minat dan sektor yang linear dengan konsentrasi pendidikan mereka. Program relawan yang ditawarkan akan terdiri dari 4 sektor utama, yakni kesehatan, pendidikan, pertanian, dan sosial ekonomi. Mahasiswa dengan konsentrasi pendidikan yang berbeda-beda tersebut dapat memilih peran relawan yang sesuai, memastikan mereka mampu berkontribusi secara maksimal sesuai keahlian masing-masing

4. Media linimasa program relawan berjalan Sebagai sebuah media berbasis teknologi yang optimal, website JADIRELAWAN.ID memungkinkan mahasiswa menyampaikan laporan secara berkala aktivitas yang mereka lakukan selama menjadi relawan. Laporan ini bertujuan untuk melakukan pemantauan efektivitas kegiatan mahasiswa, sebagai validasi kegiatan yang telah direncanakan berjalan. Melalui fungsi ini, mahasiswa juga dapat memastikan kegiatan yang belum berjalan, kesesuaian waktu relawan dengan program, serta memungkinkan pihak universitas dan sekolah tinggi memberikan masukan pada progress program kerelawanan mahasiswa.

5. Media evaluasi program relawan Sebagai akhir dari program kerelawanan, mahasiswa harus melakukan evaluasi individu terhadap program relawan mereka, dan melaporkan evaluasi pihak penerima relawan dan evaluasi dari pihak universitas dan sekolah tinggi. Dengan adanya fungsi ini, evaluasi akan lebih mudah dan terintegrasi dengan baik.

JADIRELAWAN.ID berjalan melalui siklus, dimana mahasiswa dapat mendaftarkan diri pada program kerelawanan pada website JADIRELAWAN.ID. Mahasiswa mengisi formulir pendaftaran, memilih sektor penempatan, memilih peran yang diinginkan, memilih wilayah penempatan, dan mengunggah dokumen pendukung. Setelah itu, data akan diteruskan pada tempat kegiatan relawan yang terdiri atas dinas-dinas terkait di kabupaten-kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Kemudian akan dilakukan pengumuman relawan terpilih. Mahasiswa terpilih memasukkan rencana kegiatan pada website, dan melaporkan kegiatan secara berkala. setelah periode relawan berakhir, mahasiswa akan menginput evaluasi. Perguruan tinggi dapat menilai kinerja mahasiswa dan mentransformasikannya dalam SKS mahasiswa 

Gambar 2. Diagram Alir Pendaftaran Program

Aktor-aktor yang berperan dalam website JADIRELAWAN.ID terdiri atas :
● Mahasiswa 
● Admin Perguruan Tinggi 
● Admin Daerah Provinsi 
● Admin Daerah Kabupaten/Kota

4. Strategi Implementasi JADIRELAWAN.ID JADIRELAWAN.ID dalam proses pengembangannya melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :

Gambar 3. Diagram Alir pengembangan website JADIRELAWAN.ID
1. Riset Program Relawan Berjalan dan Ketertarikan Mahasiswa 
2. Pembuatan Platform JADIRELAWAN.ID 
3. Sosialisasi JADIRELAWAN.ID pada Perguruan Tinggi 
4. Advokasi Website JADIRELAWAN.ID pada Pemerintah provinsi 
5. Sosialisasi dan Persetujuan kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten 
6. Pendataan Sektor terhambat Pandemi Covid-19 
7. Sosialisasi website JADIRELAWAN.ID dan program kampus merdeka pada Mahasiswa

Pihak Pengembang Website terlebih dahulu melakukan riset terhadap pengguna, dalam hal ini pihak perguruan tinggi dan mahasiswa terkait ketertarikan terhadap program kerelawanan dan permasalahan yang dialami. Sebagai bahan pertimbangan, pihak pengembang melakukan fiksasi terhadap website dan mengajukan kerjasama dengan pihak perguruan tinggi. Dengan kolaborasi bersama program kampus merdeka yang berjalan di masing-masing perguruan tinggi, kemudian pihak kampus menjalin kerjasama dengan pemerintah, dengan mengadvokasikan platform JADIRELAWAN.ID untuk dijadikan media dalam menyukseskan program kerelawanan di daerah-daerah. Pihak pengembang juga mendata kebutuhan relawan setiap daerah dan menginput pada sistem website JADIRELAWAN.ID. Setelah fase persiapan selesai, program akan disosialisasikan pada mahasiswa.

Penutup

JADIRELAWAN.ID hadir sebagai platform yang menjawab tantangan kurangnya sumber daya manusia yang mampu membantu masyarakat dalam menangani Pandemi Covid-19. Website ini menghadirkan solusi atas masalah-masalah tersebut melalui program kerelawanan, yang disediakan melalui sebuah media yang mempermudah mahasiswa mengetahui, mencari, dan mendaftarkan diri dalam kegiatan kerelawanan.

Rancangan website dan pengembangan JADIRELAWAN.ID dimulai dengan riset terhadap mahasiswa, dan sosialisasi pada perguruan tinggi, pemerintah dan pengajuan kerjasama pada dinas-dinas di kabupaten dan kota. Mahasiswa dapat mendaftarkan diri, memilih sektor dan penempatan kegiatan kerelawanan sesuai dengan latar belakang pendidikan masing-masing. Dengan website ini, proses kegiatan kerelawanan memiliki perencanaan yang jelas, proses monitoring dan evaluasi yang optimal pula.

Melalui perancangan ini, diharapkan pemerintah dapat melakukan kajian mengenai kebutuhan kerelawanan yang hingga saat ini semakin mendesak. JADIRELAWAN.ID perlu segera dilakukan uji kelayakan untuk realisasinya, termasuk pertimbangan kemudahan penggunaan, efektifitas pemakaian yang dibawa, serta yang paling penting dampak pelaksanaan kegiatan kerelawanan dengan website bagi daerah. 

Daftar Pustaka

2021. Buku Panduan Merdeka Belajar - Kampus Merdeka. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2021. Relawan Mahasiswa Kesehatan siap Diterjunkan Membantu Masyarakat Hadapi Covid-19 – Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. [online] Available at: [Accessed 22 July 2021].

Faliha, A., 2021. Peran Relawan dalam Penangan Covid-19, Bangun Solidaritas di Masa Pandemi | merdeka.com. [online] merdeka.com. Available at: [Accessed 22 July 2021]. 

Gerintya, S., 2021. Seberapa Siap Fasilitas & Tenaga Kesehatan RI Hadapi COVID-19? - Tirto.ID. [online] tirto.id. Available at: [Accessed 22 July 2021].

Moerti, W., 2021. Data Terkini Korban Virus Corona di Indonesia pada Juli 2021 | merdeka.com. [online] merdeka.com. Available at: [Accessed 23 July 2021].

Nugroho, A., 2021. Tantangan Penanganan Bencana di Masa Pandemi Covid-19 | Universitas Gadjah Mada. [online] Ugm.ac.id. Available at: [Accessed 22 July 2021].



 

PEMBERDAYAAN SISWA SEKOLAH MELALUI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KESIAPSIAGAAN BENCANA DAN KEGAWATDARURATAN AWAM BERBASIS AUGMENTED REALITY SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN GENERASI SIAP SIAGA

 PEMBERDAYAAN SISWA SEKOLAH MELALUI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KESIAPSIAGAAN BENCANA DAN KEGAWATDARURATAN AWAM BERBASIS AUGMENTED REALITY SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN GENERASI SIAP SIAGA


Pendahuluan

Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, menjelaskan bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam, faktor nonalam, maupun faktor manusia, sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi bencana geologi dan hidrometeorologi (BNPB, 2019). Hal tersebut disebabkan karena Indonesia dikelilingi tiga lempeng tektonik dan terletak di garis khatulistiwa, sehingga rawan mengalami bencana geologi dan hidrometeorologi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa dalam kurun waktu tahun 2020 telah terjadi 2.925 kejadian bencana alam. Bencana yang terjadi di sepanjang 2020 tersebut didominasi dengan bencana alam hidrometeorologi, seperti banjir sebanyak 1.065 kejadian, abrasi sebanyak 36 kejadian, tanah longsor sebanyak 572 kejadian, angin puting beliung sebanyak 873 kejadian, kekeringan sebayak 29 kejadian, dan kebakaran hutan dan lahan sebanyak 326 kejadian. Dari total keseluruhan kejadian di sepanjang tahun 2020, korban meninggal dunia akibat dampak bencana alam tersebut ada sebanyak 370 jiwa, 39 orang yang hilang dan 536 jiwa mengalami luka-luka. Banyak anak-anak yang menjadi korban dalam bencana tersebut (BNPB, 2020). Hal ini menunjukkan bahwa kejadian bencana dapat menimbulkan banyak korban.

Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana tahun 2015- 2030 yang diresmikan penggunaannya dalam Konferensi Dunia Ketiga Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebutkan bahwa pendidikan siaga bencana merupakan prioritas yang harus dilakukan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat pada saat bencana dan untuk mengurangi risiko yang tejadi akibat bencana (UNDRR, 2015). Hal ini sangat penting dilakukan di Indonesia yang memiliki tingkat kerentanan terhadap bencana yang tinggi dibandingkan dengan negara lainnya. Fakta yang ditemukan di lapangan bahwa masih banyak sekolah yang memiliki kesiapsiagaan rendah dalam menghadapi bencana dan ditambah lagi perhatian pemerintah terhadap penanggulangan bencana belum sepenuhnya maksimal (Widjanarko dan Minnafiah, 2018). Pendidikan di Indonesia saat ini belum ada tindakan sistematis dan konkrit untuk memasukkan muatan kebencanaan ke dalam kurikulum sekolah karena pendidikan kebencanaan masih sebatas isu yang berkembang saat terjadi bencana alam besar yang menjadi pusat perhatian pemerintah dan masyarakat. 

Selain peristiwa bencana, kecelakaan lalu lintas di jalan raya juga merupakan penyumbang angka kematian terbesar di dunia dengan puluhan juta orang terluka setiap tahunnya yang terdiri dari anak-anak, pejalan kaki, pengendara sepeda, dan orang tua paling rentan dari pengguna jalan (Fisu, 2019). Berdasarkan hasil riset kecelakaan lalu lintas Kota Makassar yang merupakan data tahun terakhir 2019, ditemukan jumlah kasus kecelakaan lalu lintas di Kota Makassar sebanyak 114 kasus dengan jumlah korban meninggal sebanyak 26 orang, luka berat 13 orang, dan luka ringan 75 orang (Psikogenesis, 2019). Hal ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari tidak akan pernah lepas dari peristiwa kecelakaan yang menimbulkan banyaknya korban

Menurut Vanaspongse (2007), anak-anak adalah kelompok yang paling berisiko mengalami kematian atau cedera akibat bencana dibandingkan populasi lain karena pengetahuan dan kemampuan mereka yang terbatas untuk menyelamatkan diri. Kurangnya informasi menjadi salah satu faktor kurangnya pengetahuan terkait penyelamatan diri dan orang-orang di sekitarnya. Pendidikan kesiapsiagaan bencana merupakan salah satu hak anak agar memiliki kesiapsiagaan jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Pendidikan ini dapat dilakukan sejak dini melalui program siaga bencana di sekolah agar anak dapat mengetahui bagaimana cara menyelamatkan diri saat terjadi suatu ancaman bahaya. Pendidikan siaga bencana dapat diawali pada anak usia sekolah.

Pembahasan

Sekolah memegang peranan yang strategis dalam upaya penanggulangan bencana, hal tersebut dikarenakan sekolah merupakan sumber ilmu pengetahuan. Sekolah mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam menghadapi bencana. Guru mampu mendukung siswa dalam mengembangkan respon psikologis, termasuk dalam upaya tanggap menghadapi bencana. Oleh karena itu, upaya penanggulangan bencana di sekolah akan mencerminkan pencegahan bencana oleh individu dan keluarga, serta pencegahan bencana pada masyarakat luas. Meskipun sebagai sumber ilmu pengetahuan, sekolah juga merupakan bangunan yang rentan terhadap bencana. Sekolah menjadi salah satu fasilitas yang dimanfaatkan dalam upaya pengurangan risiko bencana. Sekolah berperan dalam membangun kesadaran bencana masyarakat selain itu, sekolah mampu memfasilitasi dan bekerjasama dengan lingkungan sekitar, meningkatkan kecakapan masyarakat, dan menjadi pusat penampungan pengungsi ketika terjadi bencana. Pentingnya peran sekolah dalam upaya penanggulangan bencana mendorong agar siswa yang berada di sekolah tersebut juga memiliki upaya siap siaga bencana. Anak-anak merupakan golongan yang paling rentan terhadap bencana karena kapasitas dan sumber daya yang dimiliki terkait bencana masih sangat terbatas (Indriasari, 2017). Meskipun rentan, anak-anak juga dapat menjadi pondasi dari terwujudnya generasi tangguh bencana. Oleh karena itu, perlu adanya pendidikan dan pelatihan tentang kesiapsiagaan bencana dan pertolongan pertama kegawatdaruratan awam sejak dini terhadap anak sekolah.

Korban yang terluka akibat ketidaktahuan dan ketidakmampuan menghindari ancaman bahaya dan menangani kondisi kegawatdaruratan dengan cepat dan tepat dapat menyebabkan adanya korban dan bila terlambat ditangani atau bahkan terjadi penanganan yang salah, maka dapat memperparah kondisi korban. Penting adanya pendidikan sejak dini untuk anak sekolah dan remaja agar mereka dapat menyelamatkan diri saat menghadapi ancaman bahaya dan memberi pertolongan pertama saat ditemukan kondisi seseorang mengalami kegawatdaruratan. Untuk mendukung proses edukasi, dibutuhkan sarana inovatif sebagai suatu media pembelajaran yang mampu menghubungkan, memberi, dan menyalurkan informasi sehingga tercipta proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Pemanfaatan media pendidikan menggunakan augmented reality dapat merangsang pola pikir peserta didik dalam berpikir kritis terhadap sesuatu masalah dan kejadian yang ada pada kehidupan sehari-hari. Media augmented reality dapat memvisualisasikan konsep abstrak untuk pemahaman dan struktur suatu model objek, sehingga sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai media pembelajaran yang lebih efektif (Mustaqim, 2016). 

Tujuan dari pendidikan dan pelatihan ini adalah untuk memberdayakan siswa-siswi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam kesiapsiagaan bencana dan manajemen kegawatdaruratan agar mampu menyelamatkan diri dan orang-orang di sekitarnya akibat kondisi kegawatdaruratan dan bencana, menumbuhkan jiwa kemanusiaan dan rasa empati siswa-siswi sejak dini terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, menjadikan siswa-siswi sebagai pelopor untuk membangun kesiapsiagaan seluruh generasi muda dalam menghadapi bencana atau peristiwa yang mengancam nyawa lainnya. 

Manfaat dari pendidikan dan pelatihan ini adalah agar siswa sekolah memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar dalam manajemen kegawatdaruratan dan bencana, tertanamnya jiwa kemanusiaan dan rasa empati terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, mengaplikasikan ilmu yang dimiliki untuk kemaslahatan masyarakat. Berikut merupakan rangkaian tahapan metode pelaksanaan pendidikan dan pelatihan:

A. Tahap Persiapan 

Hal-hal yang perlu dipersiapkan adalah penyusunan materi buku pedoman Siaga Junior berbasis augmented reality dan pengeditan video edukasi. Buku pedoman dapat digunakan oleh siswa-siswi untuk belajar mandiri di rumah masing-masing, sedangkan video edukasi akan dibagikan setiap pekan selama pemberian materi tentang bencana. Video edukasi dapat digunakan oleh siswasiswi untuk memahami materi dengan mudah melalui penyampaian dari video akan yang diberikan. 

1. Pembuatan Buku Pedoman 

a. Menyusun konsep buku pedoman yang akan dibuat.

b. Mengumpulkan materi-materi tentang kesiapsiagaan bencana dan pertolongan kegawatdaruratan. 

c. Membuat deskripsi materi dengan bahasa yang sederhana dan jelas agar mudah dipahami. 

d. Membuat gambar yang sesuai dengan deskripsi materi untuk memberi gambaran tentang deskripsi yang dijelaskan. 

e. Mendesain buku pedoman menggunakan aplikasi CorelDraw X7 dan Microsoft Word di laptop

2. Pembuatan Video Edukasi 

a. Video edukasi tentang kesiapsiagaan bencana akan diambil dari channel YouTube Badan Penanggulangan Bencana Nasional sebagai sumber video edukasi dalam bentuk animasi, sedangkan video edukasi tentang pertolongan kegawatdaruratan akan dibuat sendiri oleh tim relawan melalui pengambilan video yang memperagakan secara langsung tentang pemberian pertolongan kegawatdaruratan. 

b. Mengedit video edukasi pertolongan kegawatdaruratan menggunakan aplikasi Filmora. 

c. Merekam suara sebagai voice over untuk mendeskripsikan isi video. Rekaman dilakukan dengan menggunakan recording microphone agar suara terdengar jernih dan stabil. 

d. Memasukkan voice over ke dalam video. e. Rendering dan mengekspor video dalam bentuk file video.

3. Pembuatan Augmented Reality 

a. Membuat produk augmented reality tiga dimensi menggunakan aplikasi Unity dan Vuforia. 

b. Membuat objek tiga dimensi. 

c. Membuat lisensi, database, dan gambar target pada Vuforia. 

d. Mengatur dan konfigurasi pada Unity untuk pembuatan augmented reality. 

e. Menambahkan komponen Vuforia pada Unity dan objek tiga dimensi. 

f. Kompilasi ke dalam bentuk instalasi android. 

g. Mengaktifkan program augmented reality dengan scan pada buku pedoman. 

h. Buku pedoman yang gambarnya di-scan menggunakan android akan memunculkan augmented reality dalam bentuk video edukasi kesiapsiagaan bencana dan pertolongan kegawatdaruratan yang telah dibuat.

B. Tahap Sosialisasi 

Hal-hal yang akan disosialisasikan adalah program-program yang akan dilaksanakan dan meminta kesepakatan masing-masing siswa-siswi yang bersedia mengikuti kegiatan.

C. Tahap Pelaksanaan 

1. Pre-Test 

Siswa-siswi akan diberikan kuesioner terlebih dahulu sebagai bentuk tes sebelum menerima materi untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswasiswi sebelum diberikan materi. Pertanyaan yang diberikan berkaitan dengan kesiapsiagaan bencana dan pertolongan kegawatdaruratan awam. 

2. Pekan Edukasi 

Pekan edukasi adalah kegiatan mingguan yang dilaksanakan setiap akhir pekan dengan pemberian materi yang berbeda-beda di setiap pertemuan. Materi yang diberikan adalah materi tentang kesiapsiagaan bencana dan cara memberikan pertolongan pertama pada korban. 

3. Simulasi 

Kegiatan ini bertujuan untuk melatih respon tanggap darurat dan bencana siswa-siswi sebagai masyarakat awam dan menstimulus jiwa empati dan kemanusiaan terhadap individu atau korban bencana. Bencana yang akan disimulasikan adalah bencana kebakaran karena bencana ini merupakan salah satu bencana yang paling sering terjadi di sekitar kita dan kasus kegawatdaruratan yang biasa terjadi dalam bencana ini sangat kompleks. Dalam simulasi ini, setiap mitra individu akan dibagi menjadi beberapa tim dan harus menyelesaikan kasus yang diberikan dalam waktu tertentu untuk menganalisis dan menentukan tindakan yang tepat terhadap kasus yang diberikan. 

4. Kampanye 

Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak dan menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam kesiapsiagaan bencana di Indonesia dan menjadikan siswa-siswi sebagai pelopor untuk membangun kesiapsiagaan bencana bagi seluruh generasi muda dalam menghadapi bencana atau peristiwa yang mengancam nyawa lainnya. Kampanye ini berbentuk video yang bersifat mengajak dan akan dilakukan oleh siswa-siswi. 

5. Evaluasi 

Sebagai bentuk evaluasi, siswa-siswi akan diberikan kuesioner sebagai bentuk post-test setelah menerima materi untuk mengukur tingkat pengetahuan siswa-siswi. Pertanyaan yang diberikan sama dengan pertanyaan pre-test yang telah diberikan sebelumnya, yaitu tentang kesiapsiagaan bencana dan pertolongan kegawatdaruratan awam. Dengan adanya evaluasi dalam bentuk post-test, maka akan diketahui adanya perubahan tingkat pengetahuan siswa-siswi sebelum dan setelah diberikan materi. 

Penutup

Anak-anak merupakan golongan yang paling rentan terhadap bencana karena kapasitas dan sumber daya yang dimiliki terkait bencana masih sangat terbatas. Meskipun rentan, anak-anak juga dapat menjadi pondasi dari terwujudnya generasi tangguh bencana. Oleh karena itu, perlu adanya pendidikan dan pelatihan tentang kesiapsiagaan bencana dan pertolongan pertama kegawatdaruratan awam sejak dini terhadap anak sekolah. Pendidikan dan pelatihan kesiapsiagaan bencana dan pertolongan pertama kegawatdaruratan awam pada siswa sekolah ini membutuhkan pendampingan secara intensif melalui pelatihanpelatihan rutin yang dipantau langsung oleh para volunteer. Oleh karena itu, perlu adanya dukungan dari berbagai komunitas atau organisasi yang dapat membantu proses keberlanjutan pendidikan dan pelatihan pada siswa sekolah.

Daftar Pustaka

Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2020. Berita: Sebanyak 2.925 Bencana Alam Terjadi Pada 2020 di Tanah Air, Bencana Hidrometeorologi Mendominasi. URL: https://www.bnpb.go.id/berita/sebanyak-2-925-bencana-alam-terjadi-pada2020-di-tanah-air-bencana-hidrometeorologi-mendominasi. Diakses tanggal 12 Februari 2021.

Fisu, A.A. 2019. Tinjauan Kecelakaan Lalu Lintas Antar Wilayah Pada Jalan Trans Provinsi Sulawesi Selatan. Pena Teknik: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Teknik. 4 (1):53- 65

Indriasari, F.N. 2017. Kesiapsiagaan Komunitas Sekolah Dasar Inklusi dalam Menghadapi Bencana Gempa Bumi di Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial. 28 (2):7-13.

Psikogenesis. 2019. Riset Terkait Kecelakaan Lalu Lintas di Kota Makassar. URL: http://www.psikogenesis.com/2019/12/riset-terkait-kecelakaan-lalu-lintas-di.html. Diakses tanggal 12 Februari 2021.

United Nations Office for Disaster Risk Reduction. 2015. Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030. URL: https://www.undrr.org/publication/sendai-framework-disaster-risk-reduction-2015 -2030. Diakses tanggal 22 Februari 2021.

Vanaspongse, C. 2007. Pedoman Pelatihan Pengurangan 2 Risiko Bencana yang Dimotori oleh Anak-anak di Sekolah dan Komunitas. Save The Children. Bangkok. Widjanarko, M. dan Minnafiah, U. 2018. Pengaruh Pendidikan Bencana Pada Perilaku Kesiapsiagaan Siswa. Jurnal Ecopsy. 5 (1):1-5.

Yanuarto, T. 2019. Buku Saku Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana. Cetakan keempat, Pusat Data Informasi dan Human BNPB. Jakarta.

PERAN VOLUNTEER : BERAGAM INOVASI TATANAN HIDUP BARU DALAM BALUTAN PANDEMI COVID-19

 PERAN VOLUNTEER : BERAGAM INOVASI TATANAN HIDUP BARU DALAM BALUTAN PANDEMI COVID-19

oleh : Widya Astuti Kamma


Pendahuluan

Pandemi covid-19 menjadi berita yang tidak asing lagi dalam kehidupan sosial budaya masyarakat saat ini. Pada kurun waktu setahun terakhir di berbagai belahan dunia, masyarakat dituntut untuk dapat hidup berdampingan dengan wabah covid19 atau akrab kita sebut sebagai era “new normal”. Dari istilah new normal kita diperbolehkan untuk beraktivitas seperti biasa dengan selalu menerapkan protokol kesehatan, antara lain menjaga jarak, menggunakan masker, rajin mencuci tangan, menjaga pola hidup sehat serta sejak diwajibkan untuk memperoleh vaksinasi covid-19. Tatanan kehidupan baru ini sebagai bentuk perlindungan diri dan orang yang kita sayangi. Tatanan hidup baru menjadi suatu perilaku yang harus dibiasakan sejak dini dan berlaku untuk segala jenis usia. Tentu tidak mudah, karena kehidupan sosial kita yang terbiasa hidup berdampingan berinteraksi dan tanpa pembatasan serta dalam aspek budaya serta psikologi kita tidak disiapkan. Aspek sosial budaya yang telah melekat bagi masyarakat dalam situasi dan kondisi apa pun ialah budaya sikap kemanusiaan untuk menolong sesama. Sikap ini disebut sebagai kerelawanan yang merupakan suatu bentuk tindakan modal sosial dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.

Kerelawanan ibarat harapan yang dapat memberikan semangat kehidupan kepada manusia. Karena menjadi relawan berarti siap memberi suatu pertolongan atau bantuan kepada sesama yang membutuhkan tanpa mengharapkan balasan. Istilah kata relawan diambil dari bahasa Jerman “aktivismus” yang memiliki tugas mengabdi tanpa pamrih untuk berpartisipasi mendorong, membenahi, dan meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat pada bidang ekonomi, sosial dan budaya. Keterlibatan relawan dalam pandemi covid-19 telah memberikan sumbangsi besar dalam kehidupan bermasyarakat. Meskipun diwarnai oleh perubahan sosial budaya yang begitu cepat dan nyata tanpa memandang kelas sosial masyarakat. Hal ini mengakibatkan timbulnya beragam permasalahan yang menyentuh segala sektor pemerintahan, pendidikan, perekonomian, bahkan kebudayaan. Namun justru dapat menjadi lebih baik berkat adanya sumbangsi material dan tenaga dari para relawan . Salah satu benteng pertahanan di era new normal adalah hadirnya para relawan yang memberikan bantuan dengan inovasiinovasi sesuai dengan situasi kondisi yang sedang dihadapi. Inovasi yang hadir menjadi solusi nyata yang terus berlanjut untuk bersama-sama menopang sendi kehidupan bermasyarakat dan merupakan ruh untuk mewujudukan kesejahteraan bersama. Sikap kerelawanan yang dibalut secara inovatif oleh para relawan akan menjawab tantangan dan sebagai adaptasi dalam tatanan baru kehidupan khususnya pada masa pandemi covid-19. 

Pembahasan 

Bahwasannya secara psikologi pada era ini manusia tidak disiapkan mengenai fenomena wabah covid-19 yang secara resmi telah ditetapkan oleh WHO (World Health Organization) sebagai pandemi pada tanggal 20 maret 2020. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diterapkan hampir di seluruh negara, hingga melihat hari ini di Indonesia selama beberapa hari berturut-turut di bulan Juli 2021 telah menjadi penyumbang korban terpapar covid-19 terbesar di dunia (VOA Indonesia, 2021). Menyikapi hal ini pemerintah memberlakukan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) dalam upaya menekan laju penyebaran covid-19.

Realitas menampakkan bahwa ketidaksiapan kita membutuhkan topangan bantuan dari sesama. Relawan kemanusian begitu dibutuhkan, apalagi jika melihat akibat dari pandemi. Dengan adanya pembatasan sosial yang diwajibkan mengharuskan para relawan bersikap lebih aktif, kreatif dan tanggap untuk membantu tanpa menyebarkan virus covid-19. Tahap awal pencegahan pun dikenal dengan istilah penerapan new normal

Kehadiran relawan bukan hanya sekadar membantu, namun telah memberikan inovasi-inovasi dalam perubahan tatanan kehidupan sosial budaya. Karena keadaan, yang menjadi tujuan utama kita adalah memutus rantai penyebaran virus covid-19 maka rangkaian kegiatan kerelawanan pun tanpa terkecuali tidak dianjurkan atau meminimalkan interaksi yang dahulunya mungkin tidak masalah namun sekarang harus dengan penerapan protokol kesehatan.

Pergerakan dengan skala cepat dan perubahan pengaruh positif dari hadirnya relawan justru memberi pengaruh kepada individu dan kelompok lain untuk ikut terlibat bekerja sama bahu membahu membantu menyentuh segala sektor yang ada. Inovasi dari satu sektor tentu akan memajukan sektor lainnya, demikianlah inovasi dari para relawan yang menjadi pelita baru dalam langkah kehidupan bermasyarakat. Teringat kembali pernyataan dari pemimpin spiritual dan politukus India Mahatma Gandhi bahwa “the best way to find yourself is to lose yourself in the service of others.”

Keterkaitan perubahan sosial budaya dan keterlibatan relawan di masa pandemi covid-19 telah menjadi kesatuan. Hal pertama yang tedampak adalah seluruh sistem dimana jaringan-jaringan sektor saling berhubungan untuk menjalankan fungsi masing-masing dalam penyelesaian sesuatu yang menjadi tujuan bersama. Unsur-unsur sistem kebudayaan mencakup perasaan (sentiment), keyakinan (pengetahuan), norma tujuan, tujuan, tingkatan atau pangkat (rank), status dan peranan, sanksi, kekuasaan atau pengaruh (power), tekanan ketegangaan (stress strain), dan sarana atau fasilitas. Keterlibatan relawan telah menyentuh unsur-unsur kehidupan sosial budaya masyarakat yang memiliki tujuan bersama mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan bangsa Indonesia meski dengan adanya pandemi covid-19.

Komunikasi dan interaksi yang terjalin menghadapi keterbatasan dikarenakan salah langkah dapat berdampak penularan virus kepada individu lain. Kecemasan dan ketakutan merupakan hal wajar di era new normal karena keterbatasan diseluruh aspek terus terjadi. Di tengah pro dan kontra mengenai interaksi sosial, melihat dari kacamata relawan dari berbagai komunitas justru hadir memberikan fasilitas dan bantuan kepada sesama. Ada pun nilai sosial budaya masyarakat berdampak pada seluruh tatanan kehidupan. 

Pada bidang kesehatan, ketersediaan pelayanan di era pandemi menjadi salah satu kebutuhan masyarakat. Jika dahulu memeriksakan diri ketika mengalami gejala penyakit adalah hal yang mudah, tidak demikian dengan situasi sekarang. Masyarakat dituntut harus cerdas dalam menjaga kesehatan dan akan berpikir berulang kali sebelum mengunjungi dokter karena banyaknya orang yang sakit di tempat pelayanan kesehatan, sehingga meskipun terlihat sehat kita dapat menjadi orang tanpa gejala yang berpeluang menyebarkan virus corona. Orang tanpa gejala ketika bertemu dengan pasien yang memiliki riwayat penyakit dalam dapat berujung kematian kepada pasien.

Banyaknya relawan dari bidang kesehatan terkhusus di era pandemi covid19 berinovasi menyediakan layanan online untuk tetap dapat terhubung dan membantu sesama. Layanan ini pun dapat diakses 24 jam sehingga memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai kesehatan. Salah satu layanan kesehatan gratis dapat diakses melalui Wantiknas, Sehat Negeriku Kemenkes dan Halo doc yang terdiri dari para relawan kesehatan. Melihat keadaan Indonesia yang memiliki tingkat penyebaran yang tinggi juga menggerakan berbagai relawan dalam penanganan pencegahan dan pemutusan rantai covid-19. Melalui media sosial gabungan dari relawan ini memberikan penyebaran informasi perihal covid19 yang dapat menjangkau jutaan orang dalam satu waktu secara cepat dan praktis (Sampurno et.al., 2020). Inovasi dengan penyebaran informasi yang dikemas secara menarik mengenai pola hidup sehat terpampang hampir di seluruh tempat umum, sosialisasi daring dan luring pun dilakukan. Kehadiran relawan dalam penangan pasien positif covid-19 dengan membuka tempat karantina dalam membantu pemulihan tersebar diberbagai daerah di Indonesia. Sumbangsi yang dapat kita jumpai ditempat umum berupa pembagian masker dan hand sanitizer. Hingga seruan-seruan penyemangat bagi masyarakat untuk selalu menjaga imun tubuh ditengah pandemi covid-19

Pada sektor pendidikan dalam konteks pandemi solusi pertama dan kultur baru ialah pembelajaran dalam jaringan (daring). Metode online disadari atau tidak, merupakan pilihan yang sangat memungkinkan diterapkan. Dengan kata lain, setiap daerah diharapkan untuk menerapkan hal yang sama. Kontribusi relawan dalam bidang pendidikan telah nampak nyata dari setiap tingkat pendidikan. Inovasi pembelajaran online dari tingkat SD hingga perkuliahan dilaksanakan dan dikemas secara kreatif dan menyenangkan. Bukan hal yang bisa dipungkiri, kebosanan untuk menatap layar tetap akan terjadi sehingga beberapa relawan telah menyiasati hal tersebut. Semisal pemberian materi dengan video penjelasan yang menarik dan sentuhan dari animasi-animasi yang diadakan oleh berbagai organisasi nirlaba dan komunitas relawan. Video pembelajaran ini pun dapat diakses secara gratis melalui internet dan dapat dibagikan oleh tenaga pendidik sebagai selingan untuk pembelajaran online. Kelas gabungan atau akrab kita sebut dengan webinar telah banyak diadakan komunitas relawan dengan melibatkan pemateri dan peserta dari berbagai daerah sehingga perbedaan yang muncul menjadi warna baru untuk dapat saling mengenal. Sampai dengan pembelajaran yang dibungkus dengan ceritacerita dan isu global yang semakin mudah untuk diakses dalam membantu pembelajaran telah dihadirkan oleh relawan bekerja sama dengan pemerintah. 

Keberadaan relawan juga menyentuh hingga ke daerah pelosok tanah air. Kita menyadari bahwa penerapan pembelajaran bukan menjadi solusi yang dapat disamaratakan untuk setiap anak. Sebelum wabah virus corona pun, pemerataan pendidikan masih terus diupayakan oleh pemerintah dan juga para relawan. Lantas inovasi seperti apa yang telah dilakukan oleh para relawan untuk menghadapi tantangan ini?. Melihat ke timur Indonesia, tanah Papua dalam balutan pandemi covid-19, relawan yang tergerak dalam komunitas Gerakan Mengajar Anak-anak Kampung telah menyentuh sendi pendidikan daerah terpencil. Komunitas ini tetap mengadakan pembelajaran tatap muka meski di masa pandemi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Pembelajaran luar jaringan (luring) dikarenakan peserta didik yang jangankan untuk memiliki ponsel pintar, mendapatkan akses untuk bersekolah merupakan hal yang luar biasa. Kebangkitan semangat belajar terus terjalin dengan memberikan warna baru untuk masa depan anak bangsa Indonesia. 

Seluruh sektor ekonomi di dunia pun terdampak covid-19, tidak terkecuali di Indonesia. Banyaknya pengurangan sampai pemutusan tenaga kerja mewarnai perekonomian di berbagai negara. Komunitas relawan hadir memberikan arahan dan harapan kepada pelaku-pelaku ekonomi untuk bersikap kreatif dan inovatif. Seperti halnya dorongan dan bantuan dari relawan untuk memulai usaha kecil bagi masyarakat dengan melihat peluang perkembangan perdagangan dengan sistem online. Dorongan yang diberikan berupa pelatihan-pelatihan usaha kreatif yang dapat dilaksanakan di rumah dan lingkungan sekitar tempat tinggal. Interkasi sosial yang terjalin kembali mengingatkan kita akan budaya saling menolong.

Kita memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menjaga alam. Akibat dari sampah masker dan alat kesehatan akibat pademi covid-19 dijumpai mulai mencemari laut (Kontan.co.id., 2021). Sehingga mengingat peran dan fungsi dalam tatanan sosial budaya memiliki rasa solidaritas tidak hanya sesama manusia namun juga terhadap alam. Upaya menjaga keselarasan dengan alam akan memberikan kesejahteraan bagi negara. Seruan dan pembagian masker kain oleh berbagai komunitas relawan, contohnya di Bali oleh komunitas “bye-bye plastic bags” diinisiasi dua bersaudara Wijsen sebagai relawan dalam menyerukan kepada masyarakat pentingnya menjaga alam dan meminimalkan penggunaan plastik serta masker sekali pakai. Sikap kemanusiaan saling tolong-menolong harus selalu mempertimbangkan keberadaan alam, sehingga keseimbangan tetap terjadi. Jika hal tersebut telah terjadi, maka keberadaan relawan yang inovatif telah tercipta. Berdasarkan penjelasan dari salah satu psikolog Herdina (2020) pada akhirnya peran yang dapat kita lakukan adalah dengan menciptakan lingkunan positif dengan memiliki dan menerapkan rasa peduli serta empati terhadap sesama. Sikap sederhana ini pun telah menjadikan kita partisipan relawan yang akan selalu berusaha memunculkan gagasan serta gerakan positif untuk sesama di tengah pandemi covid-19. Teringat akan semboyan kebhinekaan yang mempersatukan bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan dari masa ke masa “Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh”. 

Kesimpulan

Relasi sosial yang berubah di tatanan sosial budaya masyarakat akan terus terjadi. Goncangan sosial di tengah masyarakat berpotensi menimbulkan keretakan sosial. Masyarakat yang terbiasa dengan pola hidup komunal, yaitu berkumpul harus membiasakan diri dengan perubahan tatanan kehidupan masyarakat yang kita sebut new normal. Keretakan karena perubahan sosial ini menjadikan jiwa volunteer yang inovatif terus bermunculan dikarenakan situasi pandemi yang terbilang sangat baru di zaman ini sehingga harus dengan kehati-hatian dalam melangkah. 

Seluruh sektor di Indonesia pun tanpa terkecuali terdampak pandemi covid19. Solusi akan hadirnya relawan menjadi harapan bagi keberlangsungan satu sektor yang tetap akan menopang sektor lainnya. Inovasi pun bermunculan dengan tetap menerapkan new normal sebagai bentuk perlindungan diri dan sesama. Volunteer yang inovatif akan menjadikan sejarah perubahan sosial budaya masyarakat Indonesia menjadi hal yang tidak perlu dikuatirkan secara berlebihan, namun menjadi seruan kepada kita untuk bersama-sama membangun jiwa kerelawanan meskipun dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana akan menjadi penggerak untuk menghadapi situasi pandemi covid-19 demi kemajuan bangsa Indonesia. Karena masa depan sungguh ada dan harapan kita tidak akan hilang

Daftar Pustaka

Herdiana, I. (2020). Stigma Saat Pandemi COVID 19 dan Tindakan Melawannya. Diakses pada 23 Juli 2021 dari https://psikologi.unair.ac.id

https://www.VOAIndonesia.com, diakses pada 21 Juli 2021.

http://www.byebyeplasticbags.org, diakses pada 23 Juli 2021.

Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid- 19) 

Sampurno, M. B. Y. Et al. (2020). Budaya Media Sosial, Edukasi Masyarakat dan Pandemi COVID-19. Jurnal Sosial & Budaya Syar-i. UIN: Jakarta. 

TRANSFORMASI BUDAYA BELAJAR DALAM ADAPTASI KEBIASAAN BARU DI ERA PANDEMI

 TRANSFORMASI BUDAYA BELAJAR DALAM ADAPTASI KEBIASAAN BARU DI ERA PANDEMI 

Pendahuluan 

Era revolusi industri 4.0 menjadi sebuah perbincangan hangat di berbagai kalangan di dunia, eksistensi keberadaannya terus bertransformasi di berbagai bidang kehidupan manusia seperti teknologi, politik, sosial, budaya, dan tentunya di bidang pendidikan. Revolusi industri 4.0 pertama kali dikemukakan oleh Schwab (2016), dalam bukunya “The Fourth Industrial Revolution” berawal dari revolusi industri pertama yang ditandai dengan penemuan rel kereta api dan mesin uap pada tahun 1760, industri kedua ditandai dengan munculnya listrik pada akhir abad 19, pada tahun 1960 terjadi revolusi ketiga yaitu lahirnya komputer atau disebut revolusi digital, sedangkan revolusi Industri 4.0 ditandai dengan teknologi dan internet pada abad ke 21. Era Revolusi industri 4.0 menjadi sebuah perbincangan hangat di berbagai belahan dunia bahkan Bangsa Indonesia saat ini telah melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi era revolusi tersebut. Revolusi industry 4.0 menjadi sebuah teribosan baru bagi bangsa Indonesia terkhusus dalam bidang pendidikan. Akan tetapi, tentu saja dalam setiap perubahan yang akan dilakukan, tentu banyak muncul masalah atau persoalan baru. Seperti yang diungkapkan Riyana (2018) bahwa terdapat “Beberapa hal yang menjadi titik ukur kesuksesan era revolusi industri 4.0 dapat dilihat dari cara berpikir, cara belajar, cara bertindak para peserta didik dalam rangka pegembangan kreativitas dalam dunia pendidikan”. Di tengah perbincangan hangat akan transformasi era revolusi industri 4.0, dunia dikejutkan dengan sebuah musibah besar yaitu munculnya wabah penyakit Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) yang secara cepat merambat keseluruh penjuru bumi. Banyak negara yang menerapkan aturan khusus terkait pencegahan virus ini namun tetap saja penyebarannya yang begitu cepat sulit untuk diantisipasi, termasuk yang terjadi di Indonesia. Kasus Covid-19 pertama kali terdeteksi di Indonesia pada awal Maret 2020, dan sejak saat itu, wabah ini langsung merambat cepat dan hampir seluruh tempat di Indonesia terjaring wabah Covid-19. Bahkan sampai saat ini memasuki tahun 2021, Indonesia masih melakukan berbagai cara untuk meminimalisir kasus Covid-19. Hal tersebut tentu menjadi masalah yang sangat besar yang mempengaruhi segala aspek yang ada, baik ekonomi, politik, sosial, budaya dan juga dalam aspek pendidikan. Masa pandemi Covid-19 yang bertepatan dengan era revolusi 4.0 menjadikan pemerintah dan masyarakat harus membuat terobosan baru, dimana setiap orang benar-benar harus mampu dan cakap dalam mengoptimalkan penggunaan teknologi. Oleh karena itu, secara tidak langsung, bisa dikatakan bahwa adanya Covid-19 ini seakan-akan menjadi sebuh jembatan penghubung dalam menyukseskan era revolusi 4.0 terkhusus di bidang pendidikan saat ini. Dalam hal pendidikan, bukan hanya guru atau dosen yang diharuskan untuk mengusai teknologi ini tetapi siswa/mahasiswa bahkan orang tua pun harus bisa dan cakap dalam penggunaan teknologi dengan sistem pembelajaran baru yang diterapkan oleh pemerintah. Akan tetapi, penerapan model pembelajaran yang baru di masa pandemi covid-19 memunculkan polemik masyarakat. Bagi pendidik (guru/dosen), pembelajaran jarak jauh menuntut mereka agar lebih kreatif dan cakap dalam penyampaian materi melalui media pembelajaran daring, sehingga menghasilkan capaian pembelajaran yang baik berkualitas dengan harapan jauh lebih efektif dibanding budaya belajar sebelumnya. Namun, perlu diingat bahwa media pembelajaran hanya sekadar alat. Kecapakan guru dalam mengajar memiliki peran besar bagi tercapainya pembelajaran yang berkualita. Lantas, yang menjadi perdebatan sampai saat ini adalah, bagaimana pengaruh transformasi budaya belajar yang ada saat ini terkhusus di masa pandemi, terkait keterbatasan siswa/mahasiswa dan orang tua dalam memenuhi kebutuhan pembelajaran dan juga keterbatasan pengetahuan akan berbagai hal yang digunakan dalam pembelajaran media online saat ini. 

Pembelajaran Online 

Menurut Dabbagh dan Ritland, pembelajaran online adalah sistem belajar yang bersifat terbuka dengan pemanfaatan alat bantu dalam proses belajar mengajar. Alat bantu tersebut dimungkinkan melalui pemanfaatan akan internet dan teknologi lainnya guna memfasilitasi proses belajar megajar yang lebih efektif. Sistem pembelajaran online menjadi alternatif baru dari pembelajaran secara konvensional yang sebenarnya pada umumnya sudah banyak diterapkan, hanya saja di masa pandemi sekarang ini, budaya belajar baru secara online sepertinya secara penuh harus memanfaatkan teknologi. Hal ini tentu menjadi sesuatu yang cukup asing di kalangan beberapa masyarakat khususnya pelajar yang harus bertransformasi ke masa ini. Hal Ini tentu saja bukanlah sesuatu yang cukup mudah, karena harus memulai sistem ini dari awal lagi. Persoalan utama dalam dunia pendidikan terkhusus di negara kita saat ini yaitu belum seragamnya proses pembelajaran di setiap tempat yang ada. Pemerintah menerapkan model pembelajaran baru yaitu secara online dengan berbagai fasilitas yang disiapkan dengan harapan bisa memberi terobosan baru dalam bidang pendidikan untuk suatu capaian yang sama dan maksimal di setiap kalangan. Pemerintah mengeluarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 9/2018 tentang Pemanfaatan Rumah Belajar. Berbagai pihak pun kini menyuguhkan bimbingan belajar online seperti ruang guru, Zenius, Kahoot, dan lainnya guna penerapan sistem pendidikan yang lebih praktis. Keberhasilan pembangunan suatu negara dapat dilihat dari keberhasilannya memberdayakan generasi dengan pemberian pendidikan yang layak sehingga dapat melahirkan generasi penerus yang cerdas baik secara intelektual maupun emosional. Namun seperti yang dikatakan sebelumnya, adanya terobosan baru, tentu akan melahirkan juga persoalan baru. Terkait adaptasi kebiasaan baru dalam belajar, ini dirasa cukup berat oleh pendidik dan peserta didik. Bagi pendidik, dituntut harus bisa kreatif dan cakap dalam mengajar melalui media pembelajaran online, dan bagi peserta didik juga dituntut harus mampu dan bisa memanfaatkan segala bentuk teknologi yang menunjang pendidikan khususnya dengan sistem belajar jarak jauh yang diterapkan saat ini secara online. Ini perlu adanya penyesuai yang tidak mudah antara pengajar dan juga peserta didik yang tentu harus juga disesuikan dengan jenjang pendidikannya. Dampak dari penerapan model pembelajaran online ini secara tidak langsung akan menimbulkan tekanan fisik maupun psikis bagi masyarakat. Akan tetapi, dengan adanya pola pikir yang positif, itu sangat membantu dalam menyukseskan adaptasi baru tranformasi belajar ini, sehingga capaian dari model belajar online ini tetap berkualitas. Pengajar dan peserta didik tentu bukan satu-satunya tonggak penentu akan keberhasilan pembelajaran online ini, namun hal ini juga tidak terlepas dari dorongan dan dukungan orangtua. Tak sedikit orangtua yang melakukan protes dengan banyak keluhan-keluhan terkait pembelajaran jarak jauh melalui daring (internet) ini. Ada begitu banyak pandangan dari orangtua seperti, tidak maksimalnya pengetahuan yang didapatkan, siswa yang kurang aktif dalam proses belajar mengajar, kecenderungan siswa menghabiskan banyak waktu di handphone, dan banyak hal lagi yang menjadi keluhan orangtua. Selain itu, faktor lain yang menjadi penghambat akan penerapan model belajar online adalah belum meratanya pengenalan akan teknologi bagi peserta didik, terkhusus bagi mereka yang masih usia dini ataupun berada di lokasih yang kurang terjangkau oleh jaringan. Kurangnya pengetahuan akan penggunaan macam-macam teknologi dalam menunjang pendidikan seperti seperti laptop, gadget, dan lainnya juga menjadi halangan berarti bagi peserta didik. Meskipun hampir sebagian besar sudah mengenal digital, dari segi operasionalnya belum diterapkan secara optimal dalam media pembelajaran. Fasilitas video, voice note, dan Youtube dapat dijadikan sebagai media pembelajaran khusus seperti pada anak TK. Namun, di samping itu perlunya juga ada pendampingan penuh dari orangtua. Selain anak TK, anak Sekolah Dasar (SD) Sekolah Menengah juga dituntut untuk bisa menggunakan media-media tersebut dengan tambahan media lainnya yang disesuikan dnegan kebutuhan mereka. Bukanlah hal yang mudah tentang itu, karena anak belum bisa mengoperasikannya secara mandiri. Jenjang Sekolah Menengah dan Pendidikan Tinggi, juga membutuhkan inovasi dan motivasi dari pendidik (guru/dosen) agar peserta didik tidak jenuh atau bosan, tanpa menghilangkan poin capaian pembelajaran yang diharapkan. Pembelajaran online memang suatu hal yang mungkin cukup asing di banyak kalangan, akan tetapi sistem pembelajaran itu adalah sistem yang menandakan adanya kemajuan akan pemanfaatan berbagai teknologi yang ada. Di Indonesia, tingkat penggunaan internet tergolong cukup tinggi jika dibandingankan dengan negaranegara lainnya, di lain sisi ini tentu menjadi satu langkah lebih maju terkait penerapan sistem belajar online ini. Ketertarikan masyarakat khususnya peserta didik dalam penggunaan internet membuat pemerintah mengeluarkan banyak aturan dan fasilitas baru terkait layanan dalam bidang pendidikan. Khususnya di kalangan mahasiswa saat ini, pemerintah menyediakan kuota internet khusus belajar bagi setiap mahasiswa yang diberikan setiap bulannya, untuk siswa pemerintah juga menyediakan layanan seperti memfasilitasi sekolah dengan fasilitas pendukung dalam menerapkan model belajar online. Semua itu demi capaian kualitas pendidikan yang lebih baik dengan tetap mengikuti arus era revolusi yang ada.

 Macam-macam Media Pembelajaran Online 

Transformasi budaya belajar dalam adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi ada suatu hal yang harus dan bisa dilakukan. Dunia pendidikan harus tetap berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, dengan dengan kata lain, kita harus tetap bisa mengikuti perkembangan zaman dengan bekal prestasi di bidang pendidikan yang memadai namun di lai sisi juga terkait pandemi Covid-19, tentu saja sistem pembelajaran yang dulu sudah tidak bisa diterapkan lagi saat ini dengan harapan bisa terhindar dari wabah penyakit tersebut. Dengan demikian, harus ada transformasi media pembelajaran yang dulu yang lebih banyak menggunakan sistem tatap muka di dalam kelas. Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan terkait penerapan pembelajaran online di masa pandemi ini. Penerapan pembelajaran online harus diseuikan dengan jenjang pendidikan masing-masing, oleh karena itu, tidak semua media yang digunakan dalam penerapan pembelajaran online ini sama. Terkait hal ini, ada beberapa media pembelajaran online yang bisa dijadikan pilihan, di antaranya, yaitu: a. Media Pembelajaran Online yang pertama dan paling banyak digunakan adalah whatsapp group. Media pembelajaran seperti ini banyak diterapkan di kalangan siswa karena ini menjadi sesuatu yang cukup mudah. Adapun kelebihan dari penggunaan media pembelajaran seperti ini adalah, penggunaannya yang mudah, namun dari hasil survei yang dilakukan, jenis media belajar seperti ini dinilai kurang efektif karena penjelasan materi yang disampaikan oleh guru/dosen tidak maksimal dan juga kurangnya respon dari peserta didik. b. Media Pembelajaran online selanjutnya berasal dari google, yaitu google suite for education. Model pembelajaran seperti ini adalah model pembelajarn dasar dalam penggunaan internet. Setiap peserta didik bahkan sampai ke jenjang mahasiswa atau pascasarjana pun tidak terlepas dari penggunaan media google untuk belajar. Penggunaan media ini dinilai jauh lebih efektif karena sumber informasi yang didapatkan tentu jauh lebih banyak. Akan tetapi yanh menjadi kekurangan dari penggunaan media ini adalah, peserta didik dipaksa harus mandiri karena sepenuhnya media ini dikendalikan oleh pengguna sehingga banyak yang meskipun sudah menggunakan media pembelajaran ini tetap saja kurang memahami pelajaran karena tidak mendapatkan informasi/penjelasan dari guru/dosen. c. Media Pembelajaran Online selanjutnya adalah ruangguru, zenius, kahoot, dll. Media pembelajaran seperti ini lebih mengara pada peserta didik jenjang menegah sampai mahasiswa. Jenis media pembelajaran seperti ini adalah bentuk pengaplikasian dari sistem belajar tatap muka, dengan media pembelajaran seperti ini, peserta didik lebih aktif dan juga lebih memahami materi-materi pelajaran yang ada. Di samping itu, kekurangan dari media pembelajaran seperti ini adalah, harus memerluhkan biaya untuk bisa memggunakan media belajarnya. d. Media Pembelajaran Online yang juga sering digunakan adalah Zoom. Media pembelajaran seperti ini, adalah media pembelajaran yang paling banyak digunakan terutama di masa pandemi ini. Ini adalah model pembelajaran langsung yang diaplikasikan lewat media online. Ini tentu jauh lebih efektif disbanding media pembelajaran lainnya. Selain karena peserta didik bisa lebih aktif, juga bisa mendengarkan secara langsung materi yang disampaikan oleh guru/dosen. Kekurangan dari media pembelajaran ini adalah membutukan kualitas jaringan yang bagus dan memadai, sementara banyak lokasi/tempat yang belum memiliki akses jaringan internet yang baik. Berdasarkan hal di atas melihat situasi dan kondisi pada masa pandemi covid-19 guru atau dosen harus cerdas memilih media pembelajaran yang harus digunakan dalam proses pembelajaran supaya tidak ketinggalan materi. Oleh sebab itu, para pendidik diharuskan menguasai banyak media pembelajaran.

 Problematika Transformasi Budaya Belajar 

Dalam setiap perubahan, tentu harus ada kebijakan atau langkah-langkah yang dilakkan. Jika sebelum adanya pandemi Covid-19 muncul, segala sesuatu masih bisa dilakukan secara langsung ditempatnya, kini semuanya harus berubah dengan adanya adaptasi baru dalam berbagai hal. Work from home (WFH) adalah salah satu bentuknya. Keharusan work from home merupakan imbauan pemerintah dalam rangka meminimalisir dan menghentikan penyebaran pandemi Covid-19. WFH ini diberlakukan hampir pada semua lembaga dan tidak terkecuali dalam lembaga pendidikan. Bagi lembaga pendidikan, WFH ini berarti segala proses kegiatan belajar mengajar yang pada umumnya kita kenal dengan singkatan KBM harus juga ikut mengalami perubahan yang biasanya dilakukan di sekolah, kampus atau tempat tertentu lainnya secara langsung sekarang dihentikan/dibatasi sementara waktu dengan digantikan proses belajar mengajar menggunakan sistem online/daring. Peserta didik dan pengajar tetap melaksanakan KBM seperti biasanya, hanya saja penerapannya yang beda yaitu dilakukan di tempat masing-masing dengan memilih metode penggunaan media pembelajaran yang tepat untuk digunakan. Jika dipikirpikir, banyak orang yang mengirah bahwa mengira penerapan sistem seperti ini sangat mudah untuk dilakukan, dengan cukup punya fasilitasnya seperti HP dan kuota serta jaringan yang mendukung, maka kegiatan ini pasti mudah dan bisa dilakukan. Namun ternyata pandangan itu keliru. Setelah beberapa bulan melakukan KBM menggunakan sistem online, semua masalah dan kendala mulai bermunculan. Di antaranya tidak semua anak sama dalam hal kepemilikan fasilitas seperti HP, banyak di antara para siswa yang belum memiliki HP. Selain itu jika pun ada HP, keterbatasan kuota dan jaringan yang kurang mendukung juga menjadi kendala. Pembelajaran jarak jauh selama wabah virus corona, masih menemui banyak kendala di lapangan sekalipun sudah ada edaran menteri agar proses belajar dari rumah dilaksanakan secara online atau daring. Sebagian siswa tidak dapat mengikuti pembelajaran secara online atau daring karena ketiadaan sinyal jaringan internet. Selain itu, sebagian besar orangtua murid yang kondisi ekonominya pas-pasan, juga tidak memiliki ponsel pintar atau smartphone sebagai sarana belajar secara online untuk anak mereka. Sebagian guru pun terpaksa berinovasi dengan menyadur materi pembelajaran yang disiarkan televisi milik pemerintah dan mengedarkannya secara langsung kepada para murid. Proses belajar yang berlangsung dari rumah, mau tidak mau, membutuhkan pengawasan langsung dari orangtua. Padahal pada saat yang sama, orang tua murid juga harus membagi waktu untuk bekerja, mengurus rumah, sekaligus membantu belajar anak. Kendala pembelajaran jarak jauh perlu terobosan karena banyak daerah mengalami keterbatasan teknologi, lemahnya jaringan, dan kuota internet yang terbatas. Selain itu, kurikulum dan muatan ajaran perlu dirumuskan secara tepat agar pendidikan yang diberikan tetap berkualitas. Kendala ini tidak hanya dirasakan oleh siswa saja, tetapi juga guru. Anggaplah KBM sistem online ini bisa dilakukan oleh guru-guru yang masih muda yang mahir dengan teknologi. Lalu bagaimana dengan guru yang masih meraba dalam penggunaan teknologi? Ini tentu akan lebih sulit lagi. Dengan adanya kendala-kendala tersebut tentunya akan menghambat proses KBM, dan dapat diartikan belajar sistem daring yang dadakan belum efektif untuk dilakukan. Masih banyak kendala kendala lain yang muncul seperti pada saat sistem online digunakan. Materi yang disampaikan oelh guru tidak sepenuhnya dapat dipahami. Walaupun KBM tersebut dilakukan menggunakan video call, tapi tetap saja tidak seefektif yang dibayangkan. Selain itu bahkan tidak semua siswa hadir ketika KBM tersebut berlangsung, anggaplah disebabkan oleh jaringan yang tidak mendukung dan bisa juga karena siswa merasa bosan dengan sistem belajar yang tidak efektif. Belajar sistem online ini juga susah untuk mengontrol kehadiran anak- anak saat KBM, sehingga yang dapat mengikuti KBM adalah anak anak dengan fasilitas yang baik. Pada akhirnya pembelajaran tidak tersalurkan dengan baik. Tidak semua sekolah mengikuti KBM sistem online. Hal ini tentu karena berbagai pertimbangan. Banyak di antara sekolah memutuskan hanya memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah selama "libur" akibat wabah Covid-19. Dan, hal ini juga menjadi keluhan siswa/siswi dan juga orangtua disebabkan tugas/PR yang diberikan guru terlalu banyak sehingga membebani anak anak. Pemberian PR terhadap siswa selama libur juga tidak menjamin bahwa siswa/siswi akan belajar di rumah. Kebanyakan siswa beranggapan bahwa PR itu bisa dikerjakan nanti sehingga dibiarkan menumpuk sampai jadwal yang di tetap guru untuk dikumpulkan baru mereka tergesa-gesa untuk mengerjakannya. Berdasarkan kendala-kendala tersebut tentu perlu solusi agar proses belajar mengajar tetap tersalurkan dengan baik, sekalipun harus dilakukan di rumah. Tapi sepertinya solusi terbaik adalah tetap berusaha sebaik mungkin dengan mengikuti tawaran belajar online serta mengikuti aturan dan keputusan sekolah masing-masing. Ternyata dengan adanya wabah ini memberikan pelajaran untuk kita bahwa belajar di ruang kelas dengan guru secara langsung tidak dapat tergantikan oleh apapun. Karena menurut saya setidak efektif apapun KBM di ruang kelas tetap itu adalah yang terbaik; materi pelajaran dapat disampaikan dengan langsung, jika ada siswa yang tidak paham mereka bisa secara langsung bertanya kepada guru yang bersangkutan. 

Pengajar Sebagai Relawan (Volunteer) 

Belum meredanya wabah virus korona di Indonesia, memaksa pemerintah memperpanjang masa belajar -mengajar dari rumah hingga waktu yang tidak ditentukan. Tak berarti libur dari aktivitas belajar mengajar, semua sekolah sampai kampus pun diwajibkan menggunakan pembelajaran di rumah secara online dan secara manual. Instruksi belajar dari rumah yang dikeluarkan pemerintah pusat, tak sepenuhnya berjalan lancar. Jika banyak daerah menjalankan belajar online dengan mudah, tidak demikian halnya dengan daerah-daerah yang tertinggal atau daerah pedalaman yang belum terjangkau listrik dan belum meratanya pengunaan media elektronik. Ketiadaan gadget, ketiadaan aliran listrik serta keterbatasan pelajar dalam penggunaan media pembelajaran menjadikan pengajar banyak yang bertindak sebagai relawan. Para guru harus mengunjungi ratusan siswa satu per satu, untuk memberikan pelajaran tatap muka di rumah para siswa. Di daerah pedalaman ditemukan bahwa semua siswa tidak punya hp android apalagi laptop. Jadi, untuk penerapan materi secara online agak sulit dan dirasa semua sekolah pasti seperti itu juga. Maka, salah satu cara untuk menyikapi masalah atau mengatasi kesulitan listrik dan ketiadaan gadget, guru tersebut menerapkan pembelajaran secara manual ke tiap-tiap rumah siswa, sesuai arahan pemerintah agar semua siswanya tidak ketinggalan materi pembelajaran. Kehadiran guru maupun dosen sebagai relawan adalah salah satu hal yang luar biasa yang terjadi di masa pandemi ini, sehingga banyak orang yang mengatakan dibalik suatu musibah selalu ada malaikat penolong. 

Kesimpulan 

Transformasi budaya belajar dalam adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi setiap bangsa dan terkhusus bagi setiap individu. Terlepas dari masa pandemi Covid-19 ini, kita memang sudah dihadapkan dengan era baru yaitu era revolusi 4.0 dimana pemanfaatan dan penggunaan teknologi adalah salah satu hal yang wajib dan harus bisa dikuasai. Di masa pandemi ini, banyak perdebatan tentang efektivitas model atau sistem kegiatan belajar mengajar yang baru, dimana hampir semua kegiatan tersebut harus dilakukan secara online/daring. Menanggapi hal itu, pemerintah mengeluarkan banyak aturan dan juga memberikan banyak fasilitas untuk menjembatanni keadaan yang ada dengan sistem sistem pendidikan. Tentu saja, adalah sebuah terobosan baru jika bangsa kita berhasil mengaplikasikan teknologi dalam dunia pendidikan tanpa mengurangi optimalisasi dari pembelajaran itu sendiri. Kehadiran seorang pengajar yang dengan sukarela melakukan apa saja untuk kesuksesan para pelajar dibidang pendidikan menjadi suatu hal yang begitu luar biasa yang terjadi di masa pandemi ini. Transformasi budaya belajar bukanlah hal yang tidak mungkin kita lakukan, dan justru hal ini menjadi sebuah titik terang, terkhusus bagi generasi mudah saat ini yang akan lebih banyak mengambil peran untuk kemajuan bangsa dan negera di masa yang akan datang. 

DAFTAR PUSTAKA

 Atsani, LGMZ. 2020. Transformasi Media Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covd19. IAI Hamzanwadi NW: Lombok Timur Fitriah, M. 2020. Transformasi Media Pembelajaran pada Masa Pandemi Covid-19. Nursyifa, A., 2019. Transformasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0. Universitas Pamulang: Tangerang Selatan Pramesti, UD., Sunendar, D., Damayanti, VS. 2020. Komik Strip Sebagai Media Pendidikan Literasi Kesehatan Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Pada Masa Pandemi Covid-19. Universitas Pendidikan Indonesia: Bandung Riyana, C. 2018. Tantangan Pendidikan Era Revolusi Industri. Universitas Negeri Malang: Malang Ristekdikti. 2018. Era Revolusi Industri 4.0. Schwab, K. 2016. The Fourth Industrial Revolution. Word Economic Forum: Switzerland Susmiati, E. 2020. Meningkatkan Motivasi Belajar Bahasa Indonesia Melalui Penerapan Model Discovery Learning dan Media Video dalam Kondisi Pandemi Covid-19. SMP Negeri 1 Gangga: Lombok Utara

VOLUNTEER ESSAY COMPETITION

 




[LOMBA ESSAY NASIONAL]
*Volunteer Essay Competition*

📢Hallo Para Volunteer
Pendaftaran Volunteer Essay Competition sudah dibuka dengan tema *“Membangun Jiwa Volunteer yang Inovatif Selama Pandemi Covid-19”*
Lomba essay kali ini terbuka untuk Mahasiswa aktif Se-Indonesia🇮🇩✨

📃 *[SUB TEMA]*
📍Palang Merah
📍Pendidikan
📍Sosial Budaya
📍Teknologi

📑 *[MEKANISME PENDAFTARAN]*
📎Link Pendaftaran
http://bit.ly/PendaftaranVEC2021
📎Link Panduan
http://bit.ly/PanduanVEC2021

💵 *Biaya Registrasi :*
➡Gel. 1: 20K
➡Gel. 2: 35K
Dikirimkan ke:
🔴(BNI) 0857681154 a.n Reski Hasriani.

Persiapkan diri kalian ya, dan jangan lupa untuk tetap stay tune guys!👋🏻
Untuk Informasi lebih lanjut silahkan lihat poster atau kunjungi Official Account Kami.
IG : Vec_ksr.pmi.unhas

🔺C̲o̲n̲t̲a̲c̲t̲ P̲e̲r̲s̲o̲n̲ :
Juane (082293330298)
Reski (081347185932)

Salam Kemanusiaan
#NOI SIAMO TUTTI FRATELLI

SAYEMBARA IDENTITAS KSR PMI UNHAS

 



[ANNOUNCEMENT]

Sayembara Identitas KSR PMI UNHAS telah DITUTUP!!! Terima kasih kepada seluruh partisipan🙌🏻

Setelah tahap penjurian, pemenang akan segera diumumkan melalui Official Akun KSR PMI UNHAS dan email pemenang! Stay tune~

#noisiamotuttifratelly
#pengurus2021
#sayembaraidentitas

 
Back To Top